Persepsi Sosial dan Pengaruh Sosial


A.  PERSEPSI SOSIAL
1.   Definisi Persepsi Sosial
Persepsi dalam pengertian psikologi adalah proses pencarian informasi untuk dipahami. Alat untuk memperoleh informasi tersebut adalah penginderaan. Sebaliknya alat untuk memahaminya adalah kesadaran atau kognisi. Dalam hal persepsi mengenai orang itu atau orang-orang lain dan untuk memahami orang dan orang-orang lain, persepsi itu dinamakan persepsi sosial dan kognisinya pun dinamakan kognisi sosial.
Persepsi sosial menurut David O Sears adalah bagaimana kita membuat kesan pertama, prasangka apa yang mempengaruhi mereka, jenis informasi apa yang kita pakai untuk sampai pada kesan tersebut, dan bagaimana akuratnya kesan itu (David O Sears, et. al, 1994).
Menurut Istiqomah dkk, Persepsi sosial mengandung unsur subyektif. Persepsi seseorang bisa keliru atau berbeda dari persepsi orang lain. Kekeliruan atau perbedaan persepsi ini dapat membawa macam-macam akibat dalam hubungan antar manusia.
Persepsi sosial menyangkut atau berhubungan dengan adanya rangsangan-rangsangan sosial. Rangsangan-rangsangan sosial ini dapat mencakup banyak hal, dapat terdiri dari orang atau orang-orang berikut ciri-ciri, kualitas, sikap dan perilakunya, persitiwa-peristiwa sosial dalam pengertian peristiwa-peristiwa yang melibatkan orang-orang, secara langsung maupun tidak langsung, norma-norma, dan lain-lain (Istiqomah, dkk, 1988).
Ada tiga dimensi yang terkait dengan persepsi, menurut Osgood tentang konsep diferensial semantik menjelaskan tiga dimensi dasar yang terkait dengan persepsi, yakni evaluasi (baik-buruk), potensi (kuat-lemah), dan aktivitas (aktif-pasif). Menurutnya evaluasi merupakan dimensi utama yang mendasari persepsi, disamping potensi dan aktivitas (David O Sears, et. al, 1994). Menurut Brehm dan Kassin (1989), persepsi sosial adalah penilaianpenilaian yang terjadi dalam upaya manusia memahami orang lain. Tentu saja sangat penting, namun bukan tugas yang mudah bagi setiap orang. Tinggi, berat, bentuk tubuh, warna kulit, warna rambut, dan warna lensa mata, adalah beberapa hal yang mempengaruhi persepsi sosial. Contohnya di Amerika Serikat, wanita berambut pirang dinilai sebagai seorang yang hangat dan menyenangkan. Persepsi sosial terdiri atas tiga elemen yang merupakan petunjuk-petunjuk tidak langsung ketika seseorang menilai orang lain. Tiga elemen tersebut bersumber pada pribadi (person), situasi (situation) dan perilaku (behavior). Proses pembentukan persepsi sosial berdasarkan penilaian pribadi, antara lain yang dilakukan dengan cepat, ketika melihat penampilan fisik seseorang. Termasuk di dalamnya jenis kelamin, usia, ras, latar belakang etnik, dan beberapa aspek demografi lain. Sebagaimana kita percaya manusia terbagi dalam beberapa tipe, demikian pula kita memiliki konsep awal tentang beragam situasi berdasarkan pengalaman terdahulu. Situasi sering dianggap sebagai naskah kehidupan. Semakin banyak pengalaman yang orang miliki dalam satu situasi, maka semakin terperinci isi naskah yang disusunnya mengenai situasi tersebut. Ketika seseorang merasa sangat akrab dengan tipe situasi tertentu, maka peristiwa-peristiwa akan terletak tepat pada tempatnya, bagaikan potongan-potongan puzzle yang tersusun rapi. Hal ini berarti, semakin kaya pengalaman hidup seseorang, semakin bijak persepsi sosial yang dibentuknya dari situasi. Elemen perilaku adalah mengidentifikasi perilaku yang diproduksi oleh aktivitas seseorang. Perilaku membutuhkan bukti-bukti yang dapat diamati. Ketajaman pengamatan seseorang menentukan persepsi sosial yang dibentuknya berdasarkan gejala-gejala perilaku orang lain. Orang mengandalkan perilaku nonverbal untuk menguatkan penilaiannya, namun sering kali hasilnya kurang akurat. Masalahnya terletak pada terlalu banyak perhatian yang ditujukan pada kata-kata dan ekspresi wajah. Tombol komunikasi sepenuhnya berada di bawah kendali orang yang dinilai, sehingga ia dapat mengatur kata-kata dan ekspresinya. Namun isyarat bahasa tubuh dan perubahan intonasi suara adalah petunjuk yang sangat berharga dalam proses persepsi sosial bersumber pada elemen perilaku.
Penelitian membuktikan persepsi sosial yang kita lakukan dalam upaya membangun relasi interpersonal sering cukup akurat, namun tidak selalu demikian. Dalam hal inilah perlu dilakukan pengasahan mendalam agar kita dapat lebih tajam menilai orang lain. Tak kalah penting untuk dipahami adalah dua perbedaan radikal dalam pembentukan persepsi sosial. Pertama, proses yang cepat dan otomatis. Tanpa terlalu banyak berpikir, menimbang, berhati-hati, dengan cepat orang menilai orang lain berdasarkan penampilan fisik, naskah kehidupan yang telah tersusun sebagai konsep awal situasi, dan hasil pengamatan perilaku yang terjadi seketika. Kedua, proses yang dilalui dengan penuh pertimbangan. Orang mengamati orang lain secara seksama dan menunda penilaian, sampai ia selesai menganalisis orang tersebut berdasarkan ketiga elemen persepsi sosial. Pada dasarnya kedua cara yang berbeda dalam membentuk persepsi sosial sah-sah saja dilakukan. Adakalanya penilaian dibuat seketika. Misalnya pada perjumpaan yang singkat. Namun pada saat lain diperlukan pertimbangan matang dan analisis yang panjang sebelum persepsi dibentuk. Persepsi sosial yang memproduksi prasangka, berpotensi untuk berlanjut dalam tindakan-tindakan tertentu yang dapat menguatkan keutuhan hubungan atau sebaliknya malah merusak dan memporakporandakan persatuan Bagaimana mungkin muncul tawuran antarpelajar, atau bahkan antarwarga,tanpa diawali persepsi sosial? Sayangnya saat ini orang semakin tidak sadar, bahkan hampir tidak mau tahu, bahwa persepsi sosial negatif atau prasangka buruk yang dibentuknya mengenai orang atau kelompok lain, berkekuatan memicu perpecahan. Citra manusia sejati adalah manusia yang membangun persepsi sosial positif, tidak mudah menilai buku hanya dari sampulnya, namun juga waspada dalam bertindak. Artinya, tidak berprasangka buruk, namun juga tidak mudah terkecoh oleh penampilan. Orangtua sering terdengar memberi nasihat supaya anak-anaknya berhati-hati dalam pergaulan. Kehati-hatian menilai orang lain sangat penting, karena kancah pergaulan sosial adalah situasi yang kompleks. Nasihat yang baik dapat menjadi lebih efektif apabila disertai contoh perilaku dan cara melakukannya. Jangan hanya mengharapkan anak-anak saja yang berhatihati, sementara orangtua serta orang dewasa lepas kendali dan tanggung jawab mengenai persoalan ini. Berhati-hati berarti waspada, jitu dan bijak membentuk persepsi sosial dalam hubungan antar manusia.
Brems & Kassin (dalam Lestari, 1999) mengatakan bahwa persepsi sosial memiliki beberapa elemen, yaitu:
a.   Person, yaitu orang yang menilai orang lain.
b.   Situasional, urutan kejadian yang terbentuk berdasarkan pengalaman orang untuk meniiai sesuatu.
c.   Behavior, yaitu sesuatu yang di lakukan oleh orang lain.
Ada dua pandangan mengenai proses persepsi, yaitu:
a.   Persepsi sosial, berlangsung cepat dan otomatis tanpa banyak pertimbangan orang membuat kesimpulan tentang orang lain dengan cepat berdasarkan penampilan fisik dan perhatian sekilas.
b.   Persepsi sosial, adalah sebuah proses yang kompleks, orang mengamati perilaku orang lain dengan teliti hingga di peroleh analisis secara lengkap terhadap person, situasional, dan behaviour.
Persepsi sosial merupakan bagian dari kognisi sosial, yaitu pembentukan kesan-kesan tentang karakteristik-karakteristik orang lain. Kesan yang diperoleh tentang orang lain biasanya didasarkan pada tiga dimensi persepsi, yaitu:
a.    Dimensi evaluasi : penilaian untuk memutuskan sifat baikburuk, disukai-tidak disukai, positif-negatif pada orang lain
b.    Dimensi potensi : kualitas dari orang sebagai stimulus yang diamati (kuat-lemah, sering-jarang, jelas-tidak jelas)
c.    Dimensi aktivitas : sifat aktif atau pasifnya orang sebagai stimulus yang diamati Persepsi sosial didasarkan pada dimensi evaluatif, yaitu untuk menilai orang. Penilaian ini akan menjadi penentu untuk berinteraksi dengan orang selanjutnya.
Persepsi sosial timbul karena adanya kebutuhan untuk mengerti dan meramalkan orang lain.
Dalam persepsi sosial tercakup tiga hal yang saling berkaitan, yaitu:
a.    Aksi orang lain : tindakan individu yang berdasarkan pemahaman tentang orang lain yang dinamis, aktif dan independent
b.    Reaksi orang lain : aksi individu menghasilkan reaksi dari individu, karena aksi individu dan orang lain tidak terpisah.
c.    Pemahaman individu dan cara pendekatannya terhadap orang lain mempengaruhi perilaku orang lain itu sehingga timbul reaksi Interaksi dengan orang lain, reaksi dari orang lain mempengaruhi reaksi balik yang akan muncul.
2.   Bias dalam Persepsi Sosial
Ada beberapa bias atau kesesatan dalam persepsi sosial, yaitu:
a.    Hallo Effect
Cenderung mempersepsi orang secara konsisten. Pertama-tama didasarkan pada kesan fisik atau karakteristik lain yang bisa diamati
b.    Forked Tail Effect (negative hallo)
Lawan dari hallo effect, yaitu melebih-lebihkan kejelekan orang hanya berdasarkan satu keadaan yang dinilai buruk
3.   Pembentukan Kesan (impression management) 
Pembentukan kesan adalah proses dimana informasi tentang orang lain diubah ke dalam kognisi atau pikiran mereka yang relatif menetap.
Pengetahuan tentang orang-orang tertentu dan kaitannya dengan atribut tertentu sering diistilahkan sebagai prototype. Hasil prototype memunculkan adanya stereotype, yaitu pemberian atribut tertentu pada sekelompok orang tertentu. Contoh: orang Indonesia ramah, orang Amerika individualistis.
Dalam pembentukan kesan, stereotype sulit diabaikan begitu saja. Stereotype akan membatasi persepsi dan komunikasi, stereotype juga bisa dimanfaatkan untuk membina hubungan yang lebih lanjut. Pada konsep kepribadian implicit, stereotype juga akan memunculkan illusory correlation, yaitu mengaitkan secara berlebihan antara satu karakteristik dengan karakteristik yang lain secara general.
Pembentukan kesan adalah faktor penting dalam persepsi social. Pembentukan kesan pertama terhadap seseorang yang baru bertemu terjadi dalam waktu sangat pendek: 1 detik bahkan kurang, relatif tanpa usaha. Penyebabnya implicit personality theory, yaitu kecenderungan kita untuk menggabungkan beberapa sifat (misalnya: orang cantik pasti baik, brandalan pasti jahat), Kesan pertama seringkali salah karena kita lebih percaya pada teori kita sendiri dari pada kenyataan.
Dalam pembentukan kesan terhadap oranglain, ada kecenderungan untuk secepatnya mengkategorika orang tersebut ke dalam suatu cirri tertentu. Penilaian yang cepat ini (snap jugdment) memiliki arti penting dalam proses pembentukan kesan selanjutnya. Contoh yang sering ditemu adalah munculnya halo efek. Yang disebut gejala self-fulfilling prophecy adalah pembuatan kategorisasi tertentu dengan diwarnai harapan berdasarkan asumsi penilai.
Informasi tidak membanjiri kognisi secara berlimpah dikategorikan. Kategori-kategori tersebut serta hubungan-hubungannya yang dapat dirasakan membentuk dasar cognitive framework yang berguna untuk memahami orang lain. Kategori kognitif dapat meliputi jenis kelamin, peran pekerjaan, peran sosial, ciri-ciri kepribadian atau ciri-ciri fisik.
Terbentuknya kesan tentang orang lain dipengaruh oleh banyak faktor, yaitu :
a.   Filsafat Tentang Manusia
Berisi harapan-harapan atau keyakinan-keyakinan bahwa orang lain akan mempunyai kualitas-kualitas tertentu dan akan berperilaku dengan caracara teretentu. Karena merupakan harapan atau keyakinan maka belum tentu sesuai dengan kenyataan sebenarnya.
b.   Implicit Personality Theory
Skema klasifikasi yang digunakan untuk menggambarkan perilaku individu, misalnya: asertif, bersahabat, tepat waktu, dll.
Hubungan antar sifat-sifat tersebut disebut implicit personality theory yang menegaskan bagaimana kerangka kerja kognitif kita menghasilkan ramalan-ramalan tentang orang lain diluar informasi yang kita terima.
Fungsi adalah menyederhanakan informasi yang diterima, memperkaya cara dalam mengartikan suatu peristiwa dan memndu dalam merespon orang lain.
c.   Combining Information
Memutuskan untuk melanjutkan hubungan dengan orang lain, Membuat perkiraan global tentang perasaan kita terhadap orang tersebut Mengumpulkan karakter yang kita sukai dari orang tersebut Merata-ratakan informasi tentang karakter yang ada. Efek kesan pertama (primary effect) : kesan pertama sangat menentukan pandangan terhadap seseorang. Informasi yang lebih sering diperhatikan tentang sifat-sifat yang negative daripada yang positif.
d.   Stereotype
Stereotype adalah generalisasi terhadap sifat-sifat seseorang berdasarkan sifat umum kelompoknya, Stereotype terbentuk akibat menempatkan orang lain pada golongan tertentu (negatif),  terbentuk akibat menempatkan orang lain dalam kateori-kategori kognitif / pembentukan kesan (bersifat netral dan membahayakan interaksi sosial). Stereotype yang membahayakan interaksi sosial biasanya menunjuk pada kelompok minoritas dan hampir selalu membuat anggpan terhadap perilaku yang diharapkan. Dimensi etnis, ras, agama, kebangsaan. Dimensi demografis, gender, wilayah dalam satu negara
4.   Pengelolaan Kesan
Ada tiga teori tentang pengelolaan pesan, yaitu:
a.   Symbolic Interaction
Ahli teori interaksionisme simbolik C. H. Cooley dan H. Mead  partisipan didalam interaksi sosial akan mencoba “mengambil peran orang lain” dan melihat dirinya sendiri seperti orang lain melihatnya
b.   Presentation of Self
Erving Goffman memandang interaksi sosial sebagai penampilan teatrikal, bahwa setiap orang menunjukkan tindakan-tindakan verbal dan nonverbal untuk mengekspresikan dirinya. Orang yang berhasil menimbulkan kesan yang baik in face. Orang yang berhasil menimbulkan kesan yang buruk Orang yang berhasil menimbulkan kesan yang baik out of face
c.   Situated Identity
C.N Alexander mengemukakan pertimbangan sosial-situasional dan konteks interpersonal sangat penting karena pola perilaku yang cocok adalah yang sesuai dengan situasi
5.   Atribusi Sosial (Labelling)
Myers (1996) atribsi social adalah kecenderungan memberi atribusi disebabkan oleh kecenderungan manusia untuk menjelaskan segala sesuatu (sifat ilmuwan manusia), termasuk apa yang ada dibalik perilaku orang lain.
Untuk menilai orang lain berdasarkan sifat-sifat, tujuan atau kemampuan tertentu, mengharuskan kita untuk membuat atribusi atau kesimpulan tentang mereka. Karena kita tidak memiliki akses tentang pikiran-pikiran pribadi, motif ataupun perasaan orang lain, kita membuat kesimpulan tentang sifat-sifat mereka berdasarkan perilaku yang dapat kita amati. Dengan membuat atribusi semacam itu kita dapat meningkatkan kemampuan kita dalam meramalkan apa yang diperbuat oleh orang tersebut di kemudian hari.
Ada 3 teori atribusi, yaitu:
a.   Theory of Correspondent Inference (Edward Jones dan Keith Davis)
Apabila perilaku berhubungan dengan sikap atau karakteristik personal, berarti dengan melihat perilakunya dapat diketahui dengan pasti sikap atau karakteristik orang tersebut. Hubungan yang demikian adalah hubungan yang dapat disimpulkan (correspondent inference).
Bagaimana mengetahui bahwa perilaku berhubungan dengan karakteristiknya?
1)   Dengan melihat kewajaran perilaku. Orang yang bertindak wajar sesuai dengan keinganan masyarakat, sulit untuk dikatakan bahwa tindakannya itu cerminan dari karakternya.
2)   Pengamatan  terhadapan perilaku yang terjadi pada situasi yang memunculkan beberapa pilihan.
3)   Memberikan peran berbeda dengan peran yang sudah biasa dilakukan. Misalnya, seorang juru tulis diminta menjadi juru bayar. Dengan peran yang baru akan tampak keaslian perilaku yang merupakan gambaran dari karakternya.
b.   Model of Scientific Reasoner (Harold Kelley, 1967, 1971)
Harrold Kelley mengajukan konsep untuk memahami penyebab perilaku seseorang dengan memandang pengamat seperti ilmuwan, disebut ilmuwan naïf. Untuk samapi pada suatu kesimpulan atribusi seseorang, diperlukan tiga informasi penting. Masing-masing informasi juga harus menggambarkan tinggi-rendahnya. Tiga informasi itu, adalah:
1)   Distinctiveness
Konsep ini merujuk pada bagaiman seorang berperilaku dalam kondisi yang berbeda-beda. Distinctivness yang tinggi terjadi apabila orang yang bersangkutan mereaksi secara khusus pada suatu peristiwa. Sedangkan distinctiveness rendah apabila seseroagn merespon sama terhadap stimulus yang berbeda.
2)   Konsistensi
Hal ini menunjuk pada pentingnya waktu sehubungan dengan suatu peristiwa. Konsistensi dikatakan tinggi apabila seseorang merespon smaa untuk stimulus yang sama pada waktu yang berbeda. Apabila responnya tidak menentu maka seseorang dikatakan konsistensinya rendah.


3)   Konsensus
Apabila orang lain tidak bereaksi sama dengan seseorang, berarti konsensusnya rendah, dan sebaliknya. Selain itu konsep tentang consensus selalu melibatkan oranglain sehubungan dengan stimulus yang sama
Dari ketiga informasi diatas, dapat ditentukan atribusi pada seseorang. Menurut Kelley ada 3 atribusi, yaitu:
1)   Atribusi Internal, dikatakan perilaku seseorang merupakan gambaran dari karakternya bila distinctivenessnya rendah, konsensusnya rendah, dan konsistensinya tinggi.
2)   Atribusi Eksternal, dikatakan demikian apabila ditandai dengan distinctiveness yang tinggi, consensus tinggi, dan konsistensinya juga tinggi.
3)   Atribusi Internal-Eksternal, hal ini ditandai dengan distinctiveness yang tinggi, consensus rendah, dan konsistensi tinggi.
6.   Dimensi-Dimensi Atribusi
Penyebab-penyebab personal (internal) vs penyebab-penyebab di lingkungan (eksternal) : penyebab dari dalam diri individu atau diluar diri individu
Stabilitas : sifat mudah atau tidaknya faktor penyebab berubah
Controll ability : terkendali, berarti penyebab suatu kejadian berada di dalam kendali individu sendiri. Tidak terkendali, berarti faktor penyebab berasal dari luar diri individu
7.   Teori-Teori Atribusi
a.   Psikologi “Naif” dari Heider
Minat Psikologi Sosial terhadap proses atribusi diawali dengan teori Fritz Heider (1958) yang peduli tentang usaha kita untuk memahami arti perilaku orang lain, khususnya bagaimana kita mengidentifikasi sebab-sebab tindakannya.
Secara umum, perilaku dapat disebabkan oleh daya-daya personal (personal forces), seperti kemampuan atau usaha dan oleh daya-daya lingkungan (environmental forces), seperti keberuntungan atau taraf kesukaran suatu tugas. Jika suatu tindakan diatribusi sebagai daya personal, akibatnya akan berbeda dengan tindakan yang diatribusi dengan daya lingkungan.
Kita mengatribusi suatu tindakan disebabkan daya personal hanya jika orang yang kita persepsi tersebut mempunyai kemampuan untuk bertindak, berniat untuk melakukan dan berusaha untuk menyelesaikan tindakannya. Jika demikian atribusi kita, kita beranggapan hal tersebut berhubungan dengan sifatnya, sehingga dapat kita gunakan untuk meramalkan tindakan-tindakan di masa yang akan datang. Di sisi lain, jika kita mengatibusi sebagai daya lingkungan, hal ini tidak ada hubungannya dengan sifat orang yang kita persepsi, sehingga tidak dapat digunakan untuk meramalkan tindakan-tindakan di masa yang akan datang.
b.   Teori Atribusi dari Kelley
Teori Harold Kelley merupakan perkembangan dari Heider. Fokus teori ini, apakah tindakan tertentu disebabkan oleh daya-daya internal atau daya-daya eksternal. Kelley berpandangan bahwa suatu tindakan merupakan suatu akibat atau efek yang terjadi karena adanya sebab. Oleh karena itu, Kelley mengajukan suatu cara untuk mengetahui ada atau tidaknya hal-hal yang menunjuk pada penyebab tindakan, apakah daya internal atau daya eksternal.
Kelley mengajukan tiga faktor dasar yang kita gunakan untuk memutuskan hal tersebut, yaitu:
1)    Konsistensi : respon dalam berbagai waktu dan situasi, yaitu sejauh mana respon tertentu selalu terjadi pada saat hadirnya stimulus atau keadaan tertentu.
2)    Informasi konsensus : sejauh mana orang-orang lain merespon stimulus yang sama dengan cara yang sama dengan orang yang kita atribusi.
3)    Kekhususan (distinctiveness) : sejauh mana orang yang kita atribusi tersebut memberikan respon yang berbeda terhadap berbagai stimulus yang kategorinya lama.
4)    Atribusi eksternal : konsistensi  , konsensus   dan kekhususan 
5)    Atribusi internal : konsistensi  , konsensus   dan kekhususan 
c.   Teori Correspondence Interference (Jones dan Davis)
Setiap individu seolah-olah akan membuat inferensi, seperti inferensi statistik, yaitu mencari pola umum (hukum umum) dengan membuang informasi yang tidak relevan. Sebutan inferensi koresponden juga disebabkan karena teori ini mencari korespondensi antara perilaku dengan atribusi disposisional (internal) yang berbeda dengan penyebab-penyebab atribusi situasional.
Teori ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah suatu perilaku itu disebabkan oleh disposisi (karakteristik yang bersifat relatif stabil) pada individu atau tidak. Pertama-tama yang harus diketahui adalah akibat. Dengan mengetahui akibatnya, dapat diketahui intensi atau niatan orang berbuat. Diyakini ada niat atau kesengajaan dalam berbuat, kalau individu mempunyai pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan suatu tindakan.
Setelah diketahui niatan atau kesengajaan maka diinterferensi apakah perbuatan tersebut diperbuat karena faktor disposisional atau bukan. Untuk meyakini adanya faktor disposisional, maka harus ada dua hal yang dipenuhi, yaitu: noncommon effects (akibat khusus) : perilaku tersebut bersifat unik pada individu, yaitu diantara berbagai pilihan yang mungkin dilakukan, individu memilih yang paling unik social desirebility (kepantasan atau kelayakan sosial) : seberapa jauh perbuatan mempunyai nilai sosial yang tinggi. Kalau suatu perbuatan memang diinginkan banyak orang, maka perbuatan tersebut mempunyai nilai kepantasan sosial yang tinggi.
d.   Teori Bernard Weiner
Untuk memahami seseorang dalam kaitannya dengan suatu kejadian, Weiner menunjuk dua dimensi, yaitu:  dimensi internal-eksternal sebagai sumber kausalitas, dimensi stabil-tidak stabil sebagai sifat kausalitas
8.   Kesalahan Atribusi
Menurut Baron dan Byrne (1994) kesalahan bersumber pada beberapa hal, yaitu:
a.    Kesalahan atribusi yang mendasar (fundamental error)
kecenderungan untuk selalu memberi internal
b.    Efek pelaku-pengamat
proses persepsi dan atribusi sosial tidak hanya berlaku dalam hubungan antarpribadi, melainkan juga terjadi dalam hubungan antar kelompok, karena pada hakikatnya prinsip-prinsip yang terjadi di tingkat individu dapat digeneralisasikan ke tingkat antar kelompok
c.    Pengutamaan diri sendiri (self-serving bias)
setiap orang cenderung untuk membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain dalam hubungan antar pribadi, kecenderungan untuk memberi atribusi eksternal pada hal-hal yang negatif ini dipengaruhi oleh factor kepribadian
9.   Efek-Efek Atribusi Kausal
a.   Penghargaan tentang masa mendatang (future)
1)   Stabilitas atribusi
Weiner dkk berpendapat bahwa pengahrapan atau keyakinan tentang masa mendatang merupakan fungsi dari “past performance” dan stabilitas atribusi terhadap performance masa lalu
2)    Sekse dan perbedaan ras
Perempuan cenderung menerangkan keberhasilan atau kegagalan pada faktor diluar dirinya sedangkan laki-laki berpegang pada kemampuan. Hal ini dipengaruhi stereotype yg berkembang dimasyarakat. Ras kulit hitam dipandang lebih rendah kemampuannya dibandingkan orang kulit putih
3) Interpersonal self-fulfilling prophecies
Penghargaan akan performance orang lain dapat menyebabkan orang lain tersebut berperilaku sesuai pengharapan atas dirinya
b.   Evaluasi
Berkaitan dengan reward dan punishment, berkaitan dengan usaha dan kemampuan
c.   Motivasi berprestasi
Motivasi prestasi   cenderung menilai sukses sebagai hasil dari tingginya kemampuan dan usaha, motivasi prestasi   cenderung menilai sukses pada faktor eksternal dan kegagalan pada faktor internal
B.  PENGARUH SOSIAL
1.   Konformitas
Sikap patuh tetapi lebih kepada mengalah atau mengikuti tekanan dari kelompok perilaku seseorang yang sama (seragam) dengan perilaku orang lain atau perilaku kelompoknya definisi konformitas mengandung tiga hal, yaitu: patuh, perceived group pressure, dan subjek tidak diminta untuk patuh Jadi, apabila seseorang menampilkan perilaku tertentu karena setiap orang lain menampilkan perilaku tersebut dikatakan konformitas.
  1. Compliance
Patuh, ada permintaan langsung dari orang lain atau tidak, individu setuju untuk patuh.
  1. Obedience
Patuh  respon permintaan langsung (perintah)  perilaku seseorang yang disebabkan adanya tuntutan dari pihak lain (orang tua, kelompok, instansi, pemerintah atau negara)
Bila seseorang menampilkan perilaku tertentu karena adanya tuntutan meskipun sebenarnya ia tidak suka atau tidak mengkehendaki perilaku tersebut dikatakan kepatuhan.
  1. Sense Of Control
Bagaimana manusia menguasai tingkah laku mereka Humanis vs Skinner  manusia dikontrol lingkungan atau stimulus luar manusia mempunyai pilihan yang bebas
C.  HUBUNGAN SOSIAL
1.   Pengertian Hubungan Sosial
Hubungan Sosial Adalah Suatu kegiatan yang menghubungkan kepentingan antarindividu, individu dengan kelompok atau antar kelompok yang secara langsung ataupun tidak langsung dapat menciptakan rasa saling pengertian dan kerja sama yang cukup tinggi, keakraban, keramahan, serta menunjang tinggi persatuan dan kesatuan bangsa. Contoh hubungan sosial adalah gotong royong, kepekaan sosial.
Bentuk-Bentuk Hubungan Sosial
a.    Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok sosial : Paguyuban, Patembayan.
b.    Bentuk hubungan sosial berdasarkan klasifikasi Antar kelompok: Fisiologis dan kebudayaan.
c.    Bentuk hubungan sosial berdasarkan dimensi antar kelompok : demografi dan sikap.
d.    Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok mayoritas dan minoritas.
e.    Bentuk-bentuk hubungan sosial berdasarkan ras, rasisme, dan rasialisme : ras & rasisme.
f.     Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok etnik.
g.    Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok dimensi sejarah : Etnosentrisme & persaingan.
h.    Bentuk hubungan sosial berdasarkan pola hubungan sosial antar kelompok : Akulturasi.
i.      Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok sosial : Prasangka & Institusi.
  1. Kebutuhan integrative
Adalah kebutuhan manusia untuk menyalurkan kemampuannya sebagai makhluk pemikir & bermoral yang berfungsi untuk mengintegrasikan berbagai kebutuhan dan kebudayaan menjadi satu kesatuan sistem yang bulat dan menyeluruh serta masuk akal bagi para pendukungnya.  Contoh kebutuhan integrative adalah rekreasi dan hiburan, perasaan benar / salah, perasaan adil / tidak adil, serta perasaan kolektif / kebersamaan.
  1. Pengertian kebutuhan sosial
Adalah Kebutuhan manusia untuk berinteraksi dan melibatkan diri dengan orang laut dapat hidup secara berkelompok. Contoh kebutuhan sosial adalah Kegiatan bersama, sistem pendidikan, berkomunikasi dengan sesama, keteraturan sosial dan kontrol sosial, serta kepuasaan batin dari suatu keberhasilan yang diperoleh.



  1. Pengertian pranata social
Adalah Seperangkat aturan / tata cara dalam masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial.
a.   Fungsi pranata sosial
Menurut Soebjono Soefanto, yaitu : memberikan pedoman pada anggota-anggota masyarakat, bagaimana harus bersikap / bertingkah laku dalam menghadapi masalah-masalah yang muncul dan berkembang dilingkungan masyarakat, terutama yang menyangkut hubungan pemenuhan kebutuhan.
Menurut Horton dan Hunt, Fungsi Manifes / fungsi nyata, fungsi pranata yang disadari dan diakui oleh seluruh masyarakat. Fungsi Earten / terselubung, fungsi pranata yang tidak disadari dan mungkin tidak dikehendaki, atau jika diakui dianggap sebagai hasil sampingan dan biasanya tidak dapat diramalkan
b.   Tipe-Tipe Pranata Sosial
Berdasarkan perkembangannya, yaitu :
-     Crescive Institution
-     Enacted institution
Berdasarkan sistem nilai yang diterima masyarakat, yaitu :
-     Basic institution
-     Subsidiary institution
Berdasarkan penerimaan masyarakat, yaitu :
-     Approved / social sanctioned institution
-     Unsactioned institution
Berdasarkan factor penyebabnya, yaitu :
-     General institution
-     Restricted institution
Berdasarkan fungsinya, yaitu :
-     Operative institution
-     Regulative institution
c.   Tujuan pranata
Menurut Koentjaraningrat, yaitu Untuk memenuhi kebutuhan sosial dan keberatan : untuk memenuhi kebutuhan sosial dan kekerabatan (domestic institutions). Contoh : perkawinan, keluarga, dan pengasuhan anak.

5.    Hubungan Sosial Melalui Perkawinan

Di antara para pendatang yang melakukan kegiatan perdagangan, perindustrian, penjelajahan, dan penyebaran agama, banyak yang melakukan pernikahan dan membentuk kehidupan keluarga dengan penduduk asli Indonesia. Perkawinan ini menyebabkan terjadinya persilangan antara bangsa dan ras yang berbeda tersebut. Dilihat dari prosesnya, perkawinan antarras atau etnik (suku bangsa) ini merupakan suatu bentuk asimilasi secara fisik, sebab proses penyatuan tersebut meliputi fisik orang-orang yang terlibat di dalamnya. Perkawinan antaretnik sangat efektif dalam mewujudkan integrasi (penyatuan) karena perbedaan-perbedaan yang berpotensi menjadi pemicu konflik dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan sama sekali.

6.    Hubungan Sosial Melalui Pendidikan

Hubungan dalam bidang perdagangan, industri, dan perkawinan antaretnik akan memberikan peluang untuk terjadinya interseksi dalam bidang pendidikan sebab keturunan-keturunan mereka akan bersekolah di wilayah-wilayah yang mayoritas siswanya berbeda ras dan kebudayaan. Dalam bentuk yang lebih tinggi juga telah dilakukan pertukaran pelajar, lomba-lomba bidang sains dan teknologi tingkat pelajar, dan lain-lain.

7.    Hubungan Sosial Melalui Politik

Hubungan diplomatik atau hubungan antarnegara juga akan menyebabkan terjadinya proses interseksi di antara para pejabat dan utusan negara masing-masing. Hal ini mudah dipahami karena mereka akan menetap, bekerja, dan berhubungan sosial dengan orang-orang yang berasal dari ras dak kebudayaan yang berbeda-beda. Hubungan antarnegara ini, selain bermaksud untuk meningkatkan hubungan dalam bidang ekonomi, juga untuk mempererat persaudaraan antarnegara. Interseksi yang akan terjadi meliputi semua bidang, antara lain politik, sosial, ekonomi, kebudayaan, dan agama.

8.    Mendiskripsikan Bentuk-Bentuk Hubungan Sosial

Kriteria Bentuk Hubungan Sosial Terjadi karena semua kelompok di klasifikasikan oleh kinloch memiliki kriteria sebagai berikut : Kriteria ciri-ciri fisik Yaitu jenis kelamin, usia dan ras.Kriteria kebudayan yaitu seperti faktor agama kebudayaan Aceh, Minangkabau, Jawa dan Minahasa Kriteria ekonomi Dibedakan antara mereka yang mempunyai kekuasaan ekonomi dan tidak Kriteria perilaku dikelompokan berdasarkan cacat fisik, cacat mental, penyimpangan terhadap aturan masyarakat
Hubungan sosial merupakan hubungan yang terwujud antara individu dan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok sebagai akibat dari hasil interaksi diantara sesama mereka.











DAFTAR PUSTAKA


Dirgagunarsa, Singgih. 1975. Pengantar Psikologi. Jakarta : Mutiara.
Walgito, Bimo. 1997. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Andi Offset.
http://id.wikipedia.org/wiki/Ilusi_optis.
Adi, Isbandi Rukminto. 1994. Psikologi, Pekerjaan Sosial dan Ilmu Kesejahteraan Sosial: Dasar-dasar Pemikiran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar