Persepsi

Definisi Persepsi
Banyak ahli yang mencoba membuat definisi dari ‘persepsi’.
Beberapa di antaranya adalah:
1. Persepsi merupakan proses yang terjadi di dalam diri individu yang dimulai dengan diterimanya rangsang, sampai rangsang itu disadari dan dimengerti oleh individu sehingga individu dapat mengenali dirinya sendiri dan keadaan di sekitarnya (Bimo Walgito).
2. Persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penginterpretasian terhadap stimulus oleh organisme atau individu sehingga didapat sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri individu (Davidoff).
3. Persepsi ialah interpretasi tentang apa yang diinderakan atau dirasakan individu (Bower).
4. Persepsi merupakan suatu proses pengenalan maupun proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh individu (Gibson).
5. Persepsi juga mencakup konteks kehidupan sosial, sehingga dikenallah persepsi sosial. Persepsi social merupakan suatu proses yang terjadi dalam diri seseorang yang bertujuan untuk mengetahui, menginterpretasi, dan mengevaluasi orang lain yang dipersepsi, baik mengenai sifatnya, kualitasnya, ataupun keadaan lain yang ada dalam diri orang yang dipersepsi sehingga terbentuk gambaran mengenai orang lain sebagai objek persepsi tersebut (Lindzey & Aronson).
6. Persepsi merupakan proses pemberian arti terhadaplingkungan oleh seorang individu (Krech).
7. Persepsi merupakan suatu proses yang dimulai dari penglihatan hingga terbentuk tanggapan yang terjadi dalam diri individu sehingga individu sadar akan segala sesuatu dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya.
Dalam usaha menginterpretasi oranglain sering digunakan dimensi-dimensi tertentu. Wrightman (1981) mengemukakan ada 6 dimensi pokok, yaitu:
1. Dapat dipercaya – tidak dapat dipercaya
2. Rasional – tidak rasional
3. Altruis – orientasi diri (selfness)
4. Independen – conform dengan kelompok
5. Variatif – kesamaan
6. Kompleksitas – kesederhanaan
Melalui perkembangan dan pengalaman, orang membangun konsep kepribadian implicit (implicit personality theory), yaitu asumsi-asumsi adanya sifat-sifat tertentu yang berkorelasi dengan sifat lain. Orang yang memiliki kecenderungan demikian disebut psikolog naïf.
Pembentukan Kesan / Persepsi
Pengetahuan tentang orang-orang tertentu dan kaitannya dengan atribut tertentu sering diistilahkan sebagai prototype. Hasil prototype memunculkan adanya stereotype, yaitu pemberian atribut tertentu pada sekelompok orang tertentu. Contoh: orang Indonesia ramah, orang Amerika individualistis.
Dalam pembentukan kesan, stereotype sulit diabaikan begitu saja. Stereotype akan membatasi persepsi dan komunikasi, stereotype juga bisa dimanfaatkan untuk membina hubungan yang lebih lanjut. Pada konsep kepribadian implicit, stereotype juga akan memunculkan illusory correlation, yaitu mengaitkan secara berlebihan antara satu karakteristik dengan karakteristik yang lain secara general.
Kategori Sosial
Dalam pembentukan kesan terhadap oranglain, ada kecenderungan untuk secepatnya mengkategorika orang tersebut ke dalam suatu cirri tertentu. Penilaian yang cepat ini (snap jugdment) memiliki arti penting dalam proses pembentukan kesan selanjutnya. Contoh yang sering ditemu adalah munculnya halo efek. Yang disebut gejala self-fulfilling prophecy adalah pembuatan kategorisasi tertentu dengan diwarnai harapan berdasarkan asumsi penilai.
Teori-teori Atribusi (Labelling)
Ada 3 teori atribusi, yaitu:
1. Theory of Correspondent Inference (Edward Jones dan Keith Davis)
Apabila perilaku berhubungan dengan sikap atau karakteristik personal, berarti dengan melihat perilakunya dapat diketahui dengan pasti sikap atau karakteristik orang tersebut. Hubungan yang demikian adalah hubungan yang dapat disimpulkan (correspondent inference).
Bagaimana mengetahui bahwa perilaku berhubungan dengan karakteristiknya?
a. Dengan melihat kewajaran perilaku. Orang yang bertindak wajar sesuai dengan keinganan masyarakat, sulit untuk dikatakan bahwa tindakannya itu cerminan dari karakternya.
b. Pengamatan terhadapan perilaku yang terjadi pada situasi yang memunculkan beberapa pilihan.
c. Memberikan peran berbeda dengan peran yang sudah biasa dilakukan. Misalnya, seorang juru tulis diminta menjadi juru bayar. Dengan peran yang baru akan tampak keaslian perilaku yang merupakan gambaran dari karakternya.
2. Model of Scientific Reasoner (Harold Kelley, 1967, 1971)
Harrold Kelley mengajukan konsep untuk memahami penyebab perilaku seseorang dengan memandang pengamat seperti ilmuwan, disebut ilmuwan naïf. Untuk samapi pada suatu kesimpulan atribusi seseorang, diperlukan tiga informasi penting. Masing-masing informasi juga harus menggambarkan tinggi-rendahnya. Tiga informasi itu, adalah:
a. Distinctiveness
Konsep ini merujuk pada bagaiman seorang berperilaku dalam kondisi yang berbeda-beda. Distinctivness yang tinggi terjadi apabila orang yang bersangkutan mereaksi secara khusus pada suatu peristiwa. Sedangkan distinctiveness rendah apabila seseroagn merespon sama terhadap stimulus yang berbeda.
b. Konsistensi
Hal ini menunjuk pada pentingnya waktu sehubungan dengan suatu peristiwa. Konsistensi dikatakan tinggi apabila seseorang merespon smaa untuk stimulus yang sama pada waktu yang berbeda. Apabila responnya tidak menentu maka seseorang dikatakan konsistensinya rendah.
c. Konsensus
Apabila oranglain tidak bereaksi sama dengan seseorang, berarti konsensusnya rendah, dan sebaliknya. Selain itu konsep tentang consensus selalu melibatkan oranglain sehubungan dengan stimulus yang sama.
Dari ketiga informasi diatas, dapat ditentukan atribusi pada seseorang. Menurut Kelley ada 3 atribusi, yaitu:
Atribusi Internal, dikatakan perilaku seseorang merupakan gambaran dari karakternya bila distinctivenessnya rendah, konsensusnya rendah, dan konsistensinya tinggi.
Atribusi Eksternal, dikatakan demikian apabila ditandai dengan distinctiveness yang tinggi, consensus tinggi, dan konsistensinya juga tinggi.
Atribusi Internal-Eksternal, hal ini ditandai dengan distinctiveness yang tinggi, consensus rendah, dan konsistensi tinggi.

3. Atribusi Keberhasilan dan Kegagalan (Weiner)
Ada dua macam dimensi pokok:
a. Keberhasilan dan kegagalan memiliki penyebab internal atau eksternal.
b. Stabilitas penyebab, stabil atau tidak stabil.

Kestabilan
Locus of Ctrl Tidak stabil
(temporer) Stabil
(permanen)
Internal Usaha, mood, kelelahan Bakat, kecerdasan, karakteristik fisik
Eksternal Nasib, ketidaksengajaan, kesempatan Tingkat kesukaran tugas

Catatan kuliah ku di kelas Pak Moh. As’ad, ruang 202, mata kuliah Psikologi Sosial.
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Prev: Untitled II
Next: Aku di Hari Senin yang Membingungkan


PENGERTIAN PERSEPSI
1. Pengertian Persepsi
Persepsi adalah suatu proses pengenalan atau identifikasi sesuatu dengan menggunakan panca indera (Dreverdalam Sasanti, 2003). Kesan yang diterima individu sangat tergantung pada seluruh pengalaman yang telah diperoleh melalui proses berpikir dan belajar, serta dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri individu.
Sabri (1993) mendefinisikan persepsi sebagai aktivitas yang memungkinkan manusia mengendalikan rangsangan-rangsangan yang sampai kepadanya melalui alat inderanya, menjadikannya kemampuan itulah dimungkinkan individu mengenali milleu (lingkungan pergaulan) hidupnya. Proses persepsi terdiri dari tiga tahap yaitu tahapan pertama terjadi pada pengideraan diorganisir berdasarkan prinsip-prinsip tertentu, tahapan ketiga yaitu stimulasi pada penginderaan diinterprestasikan dan dievaluasi.
Mar’at (1981) mengatakan bahwa persepsi adalah suatu proses pengamatan seseorang yang berasal dari suatu kognisi secara terus menerus dan dipengaruhi oleh informasi baru dari lingkungannya. Riggio (1990) juga mendefinisikan persepsi sebagai proses kognitif baik lewat penginderaan, pandangan, penciuman dan perasaan yang kemudian ditafsirkan.
Mar'at (Aryanti, 1995) mengemukakan bahwa persepsi di pengaruhi oleh faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala, dan pengetahuan terhadap objek psikologis. Rahmat (dalam Aryanti, 1995) mengemukakan bahwa persepsi juga ditentukan juga oleh faktor fungsional dan struktural. Beberapa faktor fungsional atau faktor yang bersifat personal antara kebutuhan individu, pengalaman, usia, masa lalu, kepribadian, jenis kelamin, dan lain-lain yang bersifat subyektif. Faktor struktural atau faktor dari luar individu antara lain: lingkungan keluarga, hukum-hukum yang berlaku, dan nilai-nilai dalam masyarakat. Jadi, faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi terdiri dari faktor personal dan struktural. Faktor-faktor personal antara lain pengalaman, proses belajar, kebutuhan, motif dan pengetahuan terhadap obyek psikologis. Faktor-faktor struktural meliputi lingkungan keadaan sosial, hukum yang berlaku, nilai-nilai dalam masyarakat.
Pelaku orang lain dan menarik kesimpulan tentang penyebab perilaku tersebut atribusi dapat terjadi bila:1). Suatu kejadian yang tidak biasa menarik perhatian seseorang, 2). Suatu kejadian memiliki konsekuensi yang bersifat personal, 3). Seseorang ingin mengetahui motif yang melatarbelakangi orang lain (Shaver, 1981; Lestari, 1999).
Brems & Kassin (dalam Lestari, 1999) mengatakan bahwa persepsi sosial memiliki beberapa elemen, yaitu:
a. Person, yaitu orang yang menilai orang lain.
b. Situasional, urutan kejadian yang terbentuk berdasarkan pengalaman orang untuk meniiai sesuatu.
c. Behavior, yaitu sesuatu yang di lakukan oleh orang lain. Ada dua pandangan mengenai proses persepsi, yaitu:
1.) Persepsi sosial, berlangsung cepat dan otomatis tanpa banyak pertimbangan orang membuat kesimpulan tentang orang lain dengan cepat berdasarkan penampilan fisik dan perhatian sekilas.
2.) Persepsi sosial, adalah sebuah proses yang kompleks, orang mengamati perilaku orang lain dengan teliti hingga di peroleh analisis secara lengkap terhadap person, situasional, dan behaviour.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa persepsi suatu proses aktif timbulnya kesadaran dengan segera terhadap suatu obyek yang merupakan faktor internal serta eksternal individu meliputi keberadaan objek, kejadian dan orang lain melalui pemberian nilai terhadap objek tersebut. Sejumlah informasi dari luar mungkin tidak disadari, dihilangkan atau disalahartikan. Mekanisme penginderaan manusia yang kurang sempurna merupakan salah satu sumber kesalahan persepsi (Bartol & Bartol, 1994).


Bab I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Sejak individu dilahirkan, sejak itu pula individu secara langsung berhubungan dengan dunia luarnya. Mulai saat itu individu secara langsung menerima stimulus atau rangsang dari luar di samping dari dalam dirinya sendiri. Ia mulai merasa kedinginan, sakit, senang, tidak senang, dan sebagainya.
Individu mengenali dunia luarnya dengan menggunakan alat inderanya. Bagaimana individu dapat mengenali dirinya sendiri maupun keaaan sekitarnya, hal ini berkaitan dengan persepsi (perception). Melalui stimulus yang diterimanya, individu akan mengalami persepsi. Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu merupakan proses yang berujud diterimanya stimulus oleh individu melelui alat reseptornya. Namun proses situ tidak berhenti sampai di situ saja, melainkan stimulus itu diteruskan ke pusat susunan syaraf yaitu otak, dan terjadilah proses psikologis, sehingga indvidu menyadarai apa yang ia lihat, apa yang ia dengar dan sebagainya, individu mengalami persepsi. Karena itu proses penginderaan tidak dapat lepas dari proses persepsi, dan proses penginderaan merupakan proses pendahulu dari persepsi. Proses peginderaan akan selalu terjadi setiap saat, pada waktu individu menerima stimulusmelalui alat inderanya, melalui reseptornya. Alat indera merupakan penghubung antara individu dengan dunia luarnya (Branca, 1965; Woodworth dan Marquis,1957 dalam Bimo Walgito, 1997)

II. Permasalahan
Dari uraian latar belakang di atas, maka muncul permasalahan : Bagaimana hubungan aktivitas penginderaan terhadap persepsi peserta didik dalam proses belajar?

III. Tujuan
Ada pun tujuan penulisan makalah ini adalah agar kita dapat menganalisa hubungan aktivitas penginderaan terhadap persepsi peserta didik dalam proses belajar.

Bab II
PEMBAHASAN

2.1. Penginderaan
Definisi penginderaan (sensation) menurut Wundt adalah penangkapan terhadap rangsang-rangsang dari luar dan dapat dianalisa sampai elemen-elemen yang terkecil.
Penginderaan meliputi :
1. Penglihatan
Alat penglihatan utama adalah mata. Rangsang berupa gelombang cahaya masuk ke dalam bola mata melalui bagian-bagian mata. Prosesnya cahaya masuk ke retina diteruskan berupa impuls menuju ke syaraf (otak) sehingga objek dapat terlihat. Gangguan pada indera penglihatan menimbulkan kelainan mata sebagai berikut:
1. Myopia (rabun jauh)
2. Hypermetropia (rabun dekat)
3. Presbyopia
4. Strabismus (mata juling)
5. Astigmatisme
6. Hemeralopia (rabun senja)
7. Colour blind (buta warna)
1. Pendengaran
Alat pendengaran utama adalah telinga. Rangsang berupa gelombang suara masuk ke dalam telinga melalui bagian-bagian alat pendengaran.Gelombang suara merambat melalui 3 media:
• Udara
• Benda padat/tulang
• Cairan/endolymphe
Bila seseorang tidak dapat mendengar, maka ada kemungkinan kerusakan pada pusat pendengaran yang menyebabkan gangguan fungsi intelek atau pada salah satu alat tempat berjalannya/penerus rangsang (conductive deafness) yang tidak ada hubungannya dengan fungsi intelek.
1. Pengecap
Alat pengecap utama adalah lidah. Rangsang berupa larutan cairan melalui lidah (lingua) dan rongga mulut (cavumroris). Prosesnya adalah larutan/cairan diterima lidah masuk ke rongga mulut diteruskan nervus ke-9 menuju gyrus centralis posterior (pusat sensibilitas di kulit otak). Reseptor pada lidah ada 4 jenis penerima rangsang, yaitu : rasa manis, pahit, asin dan asam.
1. Pembau
Alat pembau utama adalah hidung. Rangsang berupa hawa/udara/bau melalui udara menuju ke reseptor yang ada di rongga hidung (cavum nasalis). Prosesnya adalah bau diterima oleh rongga hidung diteruskan oleh nervus ke-1 (saraf pembau) menuju gyrus centralis posterior (pusat sensibilitas di kulit otak).
5. Perabaan
Alat perabaan utama adalah kulit. Rangsang yang diterima tubuh manusia dapat berupa rangsang : mekanis, thermis, chemis, elektris, suara, cahaya. Perabaan adalah ransang mekanis ringan pada bagian permukaan tubuh, khususnya yang tidak berambut seperti telapak kaki, bibir,dll. Reseptornya adalah corpuscula meissner dan corpuscula pacini.

2.2. Persepsi
Definisi persepsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya. Persepsi menurut Davidoff dalam Walgito (1997) : stimulus yang diindera oleh individu diorganisasikan, kemudian diinterpretasikan sehingga individu sadar, mengerti tentang apa yang diindera.
Individu dapat mengadakan persepsi, jika:
1. Adanya objek
2. Adanya alat indera (reseptor)
3. Ada perhatian
Dalam proses persepsi sendiri terdiri dari :
1. Proses kealaman (fisik)
2. Proses fisiologis
3. Proses psikologis
2.2.1. Perhatian
Perhatian adalah pemusatan/konsentrasi dari seluruh aktivitas individu yang ditujukan pada sesuatu atau sekumpulan objek. Menurut Drever dalam Walgito (1997), perhatian merupakan penyeleksian terhadap stimulus. Sedangkan menurut Harriman dalam Walgito (1997), perhatian dan kesadaran mempunyai korelasi positif.
Berdasarkan cara timbulnya, perhatian dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu : perhatian spontan dan tidak spontan. Berdasarkan banyaknya objek, perhatian digolongkan menjadi perhatian sempit (terpusat) dan perhatian luas (terbagi-bagi). Sedangkan berdasarkan fluktuasinya, perhatian dibagi menjadi perhatian statis dan dinamis.
2.2.2. Stimulus
Objek menimbulkan stimulus/rangsang pada alat indera manusia. Tetapi tidak semua stimulus dapat disadari oleh individu. Stimulus harus cukup kuat agar dapat dipersepsi atau disadari manusia. Batas minimal kekuatan stimulus agar dapat menimbulkan kesadaran individu disebut ambang stimulus (Townsend, 1953). Untuk menentukan ambang stimulus pada umumnya digunakan methods of limits.
Agar stimulus dapat menarik perhatian individu sehingga ada kemungkinan dipersepsi harus dikaitkan dengan faktor:
1. Intensitas/kekuatan stimulus
2. Ukuran stimulus
3. Perubahan stimulus
4. Ulangan stimulus
5. Pertentangan/kontras stimulus
Kadang ditemui kesulitan dalam membedakan stimulus dengan latar belakangnya atau istilahnya disebut berayunnyaperhatian (osilasi). Seperti pada gambar-gambar ambigu Rubin dan Schroder.


2.2.3. Faktor Individu
Dalam proses pengamatan ada 2 faktor, yaitu : faktor eksternal berupa stimulus dan faktor internal berupa faktor individu. Penyeleksian stimulus oleh individu tergantung keadaan individu saat itu. Keadaan individu pada suatu waktu ditentukan oleh:
1. Sifat struktural individu (permanen)
2. Sifat temporer individu
3. Aktivitas yang sedang berjalan
2.2.4. Illusi
Ilusi adalah kesalahan individu dalam memberikan interpretasi atau arti pada stimulus yang diterimanya. Ilusi bukanlah merupakan kelainan dalam kehidupan kejiwaan seseorang. Hal ini berlainan dengan halusinasi yang merupakan kelainan dalam kejiwaan seseorang.
Faktor penyebab ilusi :
1. Faktor kealaman
Ilusi yang terjadi karena faktor alam, misalnya gema, ilusi kaca.
1. Faktor stimulus
Adanya stimulus yang ambigu dan stimulus yang tidak dianalisis lanjut.
1. Faktor individu
Disebabkan karena adanya kebiasaan dan dapat juga karena adanya kesiapan psikologis dari individu

2.3. Hubungan penginderaan terhadap persepsi peserta didik.
Dalam proses belajar pasti ada objek yang akan dipelajari. Objek yang akan dipelajari harus dapat diindera dengan baik oleh alat indera peserta didik. Sehingga peserta didik dapat menyadari atau mempersepsi objek belajar tersebut. Tetapi berhasil/tidaknya persepsi, tidak hanya ditentukan oleh alat indera. Melainkan juga faktor lain seperti kesiapan peserta didik dalam menerima stimulus, kekuatan stimulus, atau faktor individu. Jika peserta didik dapat mempersepsi objek yang dipelajari dengan benar maka tujuan pembelajaran dapat dicapai sesuai dengan yang diharapkan.
Setelah kita dapat menganalisis aktivitas penginderaan terhadap persepsi peserta didik, diharapkan pendidik mampu membantu atau mengatasi kesulitan peserta didik dalam belajar. Contohnya, jika peserta didik mengalami gangguan penginderaan misalnya penglihatan (miopi), maka pendidik bisa memindahkan peserta didik ke depan kelas agar peserta didik itu dapat mengindera dengan baik. Sedangkan jika peserta didik mengalami kesulitan belajar dikarenakan faktor perhatian/kesiapan, maka pendidik perlu menerapkan teknik apersepsi yang menarik perhatian siswa bisa dengan media yang penuh warna, ritme suara yang menarik minat siswa.
Bab III
KESIMPULAN DAN SARAN


3.1. Kesimpulan
Setelah membahas masalah di atas, maka kami menyimpulkan sebagai berikut :
1. Penginderaan yang baik, besar kemungkinan akan menimbulkan persepsi yang benar.
2. Persepsi yang benar tidak hanya dipengaruhi oleh penginderaan yang baik, tetapi juga dipengaruhi faktor lain seperti kesiapan, stimulus dan faktor individu.
3. Gangguan penginderaan akan mengganggu peserta didik dalam mempersepsi sehingga akan menghambat proses belajar.
4. Keberhasilan proses belajar sangat ditentukan oleh penginderaan dan persepsi yang benar.
5. Analisis aktivitas penginderaan dan persepsi peserta didik dalam proses belajar penting bagi seorang pendidik.
3.2. Saran
Dari uraian di atas, kami menyarankan :
1. Pendidik diharapkan mampu menganalisis aktivitas penginderaan dan persepsi peserta didik agar dapat membantu mengatasi kesulitan belajar peserta didik.
2. Diharapkan pendidik bisa menemukan metode-metode yang inovatif agar peserta didik dapat mempersepsi dengan benar.
DAFTAR PUSTAKA


Dirgagunarsa, Singgih. 1975. Pengantar Psikologi. Jakarta : Mutiara.
Walgito, Bimo. 1997. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Andi Offset.
http://id.wikipedia.org/wiki/Ilusi_optis.

Penginderaan, Persepsi, dan Persepsi Sosial
1. Penginderaan
Sejak individu dilahirkan, ia langsung berinteraksi dengan lingkungan fisik dan lingkungan sosialnya dan menggunakan alat indera dalam mengenali dunia luar. Dalam mengenali dirinya sendiri maupun keadaan sekitar sangat berkaitan dengan persepsi (perception). Karena itu proses penginderaan tidak dapat lepas dari proses persepsi, dan proses penginderaan merupakan proses pendahulu dari persepsi. Proses peginderaan akan selalu terjadi setiap saat, pada waktu individu menerima stimulus melalui alat inderanya, melalui reseptornya. Alat indera merupakan penghubung antara individu dengan dunia luarnya (Branca, 1965; Woodworth dan Marquis,1957 dalam Bimo Walgito, 1997). Terkait dengan alat penginderaan dikenal pula konsep senses yang dalam bahasa Indonesia sering dipadankan dengan rasa ataupun indera, tapi konsep rasa di sini berbeda dengan perasaan (feeling).
Definisi penginderaan (sensation) menurut Wundt adalah penangkapan terhadap rangsang-rangsang dari luar dan dapat dianalisa sampai elemen-elemen yang terkecil.
1. Penglihatan
Alat penglihatan utama adalah mata. Rangsang berupa gelombang cahaya masuk ke dalam bola mata melalui bagian-bagian mata. Proses cahaya masuk ke retina diteruskan berupa impuls menuju ke saraf (otak) sehingga objek dapat terlihat. Gangguan pada indera penglihatan menimbulkan kelainan mata sebagai berikut:
1. Myopi (rabun jauh)
2. Hypermetropi (rabun dekat)
3. Presbyopi
4. Strabismus (mata juling)
5. Astigmatisme
6. Hemeralopi (rabun senja)
7. Colour blind (buta warna)
2. Pendengaran
Alat pendengaran utama adalah telinga. Rangsang berupa gelombang suara masuk ke dalam telinga melalui bagian-bagian alat pendengaran. Gelombang suara merambat melalui 3 media:
• Udara
• Benda padat/tulang
• Cairan/endolymphe
Bila seseorang tidak dapat mendengar, maka kemungkinan terjadi kerusakan pada pusat pendengaran yang menyebabkan gangguan fungsi intelek atau pada salah satu alat penerus rangsang (conductive deafness) yang tidak ada hubungannya dengan fungsi intelek.
3. Pengecap
Alat pengecap utama adalah lidah. Rangsang berupa larutan cairan melalui lidah (lingua) dan rongga mulut (cavumroris). Prosesnya adalah larutan atau cairan yang diterima lidah masuk ke rongga mulut diteruskan nervus ke-9 menuju gyrus centralis posterior (pusat sensibilitas di kulit otak). Pada lidah ada empat jenis penerima rangsang, yaitu : rasa manis, pahit, asin dan asam.
4. Pembau
Alat pembau utama adalah hidung. Rangsang berupa bau melalui udara menuju ke reseptor yang ada di rongga hidung (cavum nasalis). Prosesnya adalah bau diterima oleh rongga hidung diteruskan oleh nervus ke-1 (saraf pembau) menuju gyrus centralis posterior.
5. Perabaan
Alat perabaan utama adalah kulit. Rangsang yang diterima tubuh manusia dapat berupa rangsang : mekanis, thermis, chemis, elektris, suara, cahaya. Perabaan adalah rangsang mekanis ringan pada bagian permukaan tubuh, khususnya yang tidak berambut seperti telapak kaki, bibir,dan lain-lain. Reseptornya adalah corpuscula meissner dan corpuscula pacini.
Setiap sistem indera adalah suatu jenis hubungan, yang terdiri dari satu elemen yang sensitif (reseptor), saraf fiber memimpin dari reseptor ke otak atau sumsum tulang belakang, dan berbagai stasiun penerima dan daerah pemrosesan dalam otak.
Dimensi Penginderaan
Penginderaan terjadi dalam suatu konteks tertentu, konteks ini disebut dunia persepsi. Ciri-ciri umum dari proses penginderaan tersebut, antara lain:
1. Rangsang yang diterima harus sesuai dengan modalitas tiap-tiap indera, yaitu sifat sensoris dasar dari masing-masing indera (cahaya untuk penglihatan, bau untuk penciuman, dan lain-lain).
2. Dunia persepsi mempunyai sifat ruang (dimensi ruang); kita dapat mengatakan atas-bawah, tinggi-rendah, dan luas-sempit.
3. Dunia persepsi mempunyai dimensi waktu, seperti cepat-lambat dan tua-muda.
4. Obyek atau gejala dalam dunia pengamatan mempunyai struktur yang menyatu dengan konteksnya. Keduanya merupakan suatu keseluruhan yang menyatu, seperti “pintu”. Kita melihat pintu tidak berdiri sendiri tetapi dalam ruang tertentu, di saat tertentu, letak atau posisi tertentu dan lain-lain.
5. Kita cenderung menggunakan persepsi pada gejala-gejala yang mempunyai makna, yang ada hubungannya dengan tujuan dalam diri kita.
Pengalaman inderawi (sensory experience) dipengaruhi dari sifat-sifat sangsang yang diterima sehingga kita mempunyai pengalaman inderawi yang dapat dipaparkan dalam dalam suatu bentangan yang disebut dimensi penginderaan. Dimensi penginderaan terdiri dari intensitas (kuat-lemahnya penginderaan suatu rangsang tertentu), ekstensitas (penghayatan terhadap tebal-tipis, luas-sempit), lamanya (penginderaan dapat berlangsung lama atau sebentar), kualitas (kualitas rangsang, misalnya nada merdu atau nada yang kasar, warna yang serasi atau tidak serasi).
Dari Proses Penginderaan Ke Persepsi
Persepsi dapat dikatakan sebagai apa yang dialami oleh manusia. Persepsi -pengalaman kita tentang dunia- muncul dari input penginderaan yang ditambah dengan cara kita memproses informasi penginderaan. Persepsi juga merupakan proses psikologis sebagai hasil penginderaan serta proses terakhir dari kesadaran, sehingga membentuk proses berpikir. Persepsi seseorang akan mempengaruhi proses belajar (minat) dan mendorong mahasiswa untuk melaksanakan sesuatu (motivasi) belajar.
2. Persepsi
Persepsi adalah proses pemahaman ataupun pemberian makna atas suatu informasi terhadap stimulus. Stimulus didapat dari proses penginderaan terhadap objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan antar gejala yang selanjutnya diproses oleh otak. Proses kognisi dimulai dari persepsi. Menurut McMahon persepsi adalah proses mnginterpretasikan rangsang (input) dengan menggunakan alat penerima informasi (sensory information). Morgan, King, dan Robinson persepsi menunjuk bagaimana kita melihat, mendengar, merasakan, mengecap, dan mencium dunia di sekitar kita, dengan kata lain persepsi dapat pula didefinisikan sebagai segala sesuatu yang dialami manusia. William James mengatakan bahwa persepsi terbentuk atas dasar data-data yang kita peroleh dari lingkungan yang diserap oleh indera kita, serta sebagian lainnya diperoleh dari engolahan ingatan (memori) kita (diolah kembali berdasarkan pengalaman yang kita miliki.
1. Prinsip-prinsip persepsi
Sebagian besar dari prinsip-prinsip persepsi merupakan prinsip pengorganisasian berdasarkan teori Gestalt. Teori Gestalt percaya bahwa persepsi bukanlah hasil penjumlahan bagian-bagian yang diindera seseorang, tetapi lebih dari itu merupakan keseluruhan (the whole). Teori Gestalt menjabarkan beberapa prinsip yang dapat menjelaskan bagaimana seseorang menata sensasi menjadi suatu bentuk persepsi.
• Prinsip persepsi yang utama adalah prinsip figure and ground.
Prinsip ini menggambarkan bahwa manusia, secara sengaja maupun tidak, memilih dari serangkaian stimulus, mana yang menjadi fokus atau bentuk utama (figure) dan mana yang menjadi latar (ground).
Dalam kehidupan sehari-hari, secara sengaja atau tidak, kita akan lebih memperhatikan stimulus tertentu dibandingkan yang lainnya. Artinya, kita menjadikan suatu informasi menjadi figure, dan informasi lainnya menjadi ground. Slah satu fenomena dalam psikologi yang menggambarkan prinsip ini adalah, orang cenderung mendengar apa yang dia ingin dengar, dan melihat apa yang ingin dia lihat.
• Prinsip persepsi yang kedua adalah prinsip pengorganisasian.
Untuk mempersepsi stimulus mana yang menjadi figure dan mana yang ditinggalkan sebagai ground, ada beberapa prinsip pengorganisasian.
• Prinsip proximity
Seseorang cenderung mempersepsi stimulus-stimulus yang berdekatan sebagai satu kelompok.
Sebagai contoh dalam kehidupan sehari-hari, kebanyakan orang akan mempersepsikan beberapa orang yang sering terlihat bersama-sama sebagai sebuah kelompok atau peer group. untuk orang yang tidak mengenal dekat anggota �kelompok� itu, bahkan akan tertukar indentitas saatu dengan yang lainnya, karena masing-masing orang ( sebenarnya ada 4 jalur titik 0 terlabur identitasnya degan keberadaan orang lain ( dipersepsi sebagai 2 kelompok titik ).
• Prinsip similarity
Seseorang akan cenderung mempersepsikan stimulus yang sama sebagai satu kesatuan.
• Prinsip continuity
Prinsip ini menunjukkan bahwa kerja otak manusia secara alamiah melakukan proses melengkapi informasi yang diterimanya walaupun stimulus tidak lengkap. Dalam kehidupan sehari-hari, contohnya fenomena tentang bagaimana gosip bisa begitu berbeda dari fakta yanga ada. fakta yang diterima sebagai informasi oleh seseorang, kemudian diteruskan ke orang lain setelah “dilengakapi” dengan informasi lain yang dianggap relevan walapun belum menjadi fakta atau tidak diketahui faktanya.
• Prinsip simetry
Ada kecenderungan seseorang mengorganisasikan berbagai hal dalam bentuk yang simetrik, dan prinsip ini banyak berkait dengan prisip keserupaan, dan kedekatan. seperti pada contoh di bawah ini, orang cenderung mngelompokkan garis-gris dibawah menjadi “3 buah segi empat” dan “1 garis sisa yang berdiri sendiri di sebelah kirinya”.
Contoh: ] [ ] [ ] [ ]
• Prinsip closure (kerapatan)
Kecenderungan untuk mempersepsi dengan mengisi bagian-bagian yang kosong dalam suatu bentuk.
Persepsi kedalaman (Depth Perception)
Persepsi kedalaman adalah adalah kemampuan indera penglihatan untuk mengindera ruang. Penginderaan visual kita hanya berdimensi dua, sedangkan ruang berdimensi tiga. Karena itu, ppenginderaan ruang merupakan penghayatan yang menyeluruh, bukan sekedar penginderaan visual saja. Ada beberapa patokan yang digunakan manusia dalam persepsi kedalaman, yaitu:
1. Perspektif atmosferik: semakin jauh objek, semakin kabur.
2. Perspektif linear: semakin jauh, garis-garis akan menyatu menjadi satu titik (konvergensi)
3. kualitas permukaan (texture gradient), berkurangnya ketajaman kualitas tekstur karena jarak makin jauh.
4. posisi relatif, objek yang jauh akan ditutupi atau kualitasnya menurun, karena bayangan objek-objek yang lebih dekat. Selain itu, benda yang lebih dekat akan terletak di depan benda yang lebih jauh dalam medan penglihatan kita.
5. Sinar dan bayangan, bagian permukaan yang lebih jauh dari sumber cahaya akan lebih gelap dibandingkan bagian yang lebih dekat.
6. Patokan yang sudah dikenal, benda-benda yang sudah kita kenal ukurannya akan kelihatan lebih kecil dikejauhan. Ukuran yang sudah kita kenal itu dapat dipakai untuk membandingkan ukuran satu objek dengan objek lain pada jarak tertentu.
Patokan-patokan tersebut sering dipakai oleh para seniman (pelukis) untuk membuat efek-efek tertentu dalam lukisannya.
Persepsi Gerak
Jika dilihat dari gerakkan suatu objek maka ada dua jenis persepsi yag terjadi
● real motion, yaitu gerakkan yang kita lihat terjadi karena objek yang kita amati benar-benar bergerak
● apparent motion, dalam persepsi ini objek bergerak meskipun sebenarnya objek tersebut tidak bergerak. ada beberapa macam apparent motion :
1. stroboscopic motion, yaitu melihat gerakan pada suatu film dari negatif film yang tidak bergerak ( percepatan )
2. induced movement , yaitu gerakkan pada lampu iklan ( perubahan pada latar belakang ataupun warna )
1. efek autokinetic , yaitu gerakkan yang terjadi ketika melihat bintang, bintang terlihat berkerlap-kerlip ( gerakkan ppada alat penginderaan visual ).
3. Persepsi Sosial
Persepsi sosial dapat diartikan sebagai suatu kesadaran dan penilaian individu akan adanya orang lain atau perilaku orang lain yang terjadi di sekitarnya. Sebagai penilaian terhadap penampilan fisik dan ciri-ciri perilaku orang lain. Pembentukkan persepsi sosial seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
1. Streotip, pandangan individu tentang ciri-ciri tingkah laku sekelompok orang tertentu (seperti kelas ekonomi, pendidikan, bentuk buku, jenis kelamin, dsb) sangat mempengaruhi kesan pertama individu tersebut. Misalnya bila seseorang bertemu dengan seorang Batak maka gambarannya terhadap orang tersebut dipengaruhi oleh gambaran stereotipik yang dimiliki orang tersebut terhadap orang batak (seperti orang batak itu keras, suka berbicara terus terang, dan lain sebagainya).
2. Persepsi diri, pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri. Penelitian yang dilakukan oleh Gage dan Crombach (1955) menunjukkan adanya kecenderungan seseorang untuk melihat kesamaan yang ada antara individu dengan orang asing yang ditemuinya (asumed similarity). Misalnya orang asing yang dianggap memiliki banyak kesamaan dengan dirinya sendiri akan memunculkan kesan yang berbeda bila dibandingkan dengan orang asing yang sama sekali berbeda dengan dirinya.
3. Situasi dan Kondisi yang ada (setting), dimana kita menjumpai seseorang juga memberikan kesan yang berbeda terhadap orang tersebut. Misal A bertemu dengan B saat B sedang solat di masjid, akan berbeda dibandingkan dengan bila A bertemu C saat C sedang mabuk-mabukan di sebuah warung pinggir jalan.
4. Ciri-ciri yang ada dalam seseorang, ciri khas individual, termasuk didalamnya ciri-ciri fisik seseorang jelas sangat mempengaruhi kesan pertama kita terhadap seseorang, dengan kata lain juga akan mempengaruhi persepsi sosial kita. bila kesan pertama terbentuk, maka biasanya kita akan meneraokan oenilaian tersebut pada pribadi kenalan baru yang kita temui. proses mencari informasi tentang ciri-ciri pribadi sesorang dan menerapkan pada orang tersebut untuk menentukan reaksi selanjutnya disebut atribusi. Vander Zanden mengatakan bahwa atribusi adalah proses dimana kita menjelaskan dan menginterpretasikan kejadian yang kita temui. ia melihat bahwa atribusi mempunyai beberapa fungsi, yang pertama, atribusi memberikan penjelasan mengeai dunia kita ( baik dunia fisik maupun dunia sosial ) ; kedua, atribusi memungkinkan kita untuk memprediksikan kejadian yang akan terjadi ; ketiga, atribusi memungkinkan kita untuk memelihara, melindungi ataupun memperluas keyakinan yang kita miliki mengenai diri kita sendiri ;dan keempat, atribusi membantu kita untuk memformulasikan perilaku kita, terutama dalam tindakan kita dengan orang lain.
Kesimpulan
Setelah membahas masalah di atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Penginderaan yang baik, besar kemungkinan akan menimbulkan persepsi yang benar.
2. Persepsi yang benar tidak hanya dipengaruhi oleh penginderaan yang baik, tetapi juga dipengaruhi faktor lain seperti kesiapan, stimulus dan faktor individu.
3. Gangguan penginderaan akan mengganggu kita dalam mempersepsi sehingga akan menghambat proses belajar.
4. Keberhasilan proses belajar sangat ditentukan oleh penginderaan dan persepsi yang benar.
5. Analisis aktivitas penginderaan dan persepsi peserta didik dalam proses belajar penting bagi seorang pendidik.
Daftar Pustaka
• Adi, Isbandi Rukminto. 1994. Psikologi, Pekerjaan Sosial dan Ilmu Kesejahteraan Sosial: Dasar-dasar Pemikiran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.


gory Uncategorized.
Tags No tags.
Groups

Copyright Attribution Non-commercial

More info »

Login or Signup to Scribble a Comment
or use Facebook Connect


BAB I Pendahuluan

Persepsi dalam Psikologi diartikan sebagai salah satu perangkat psikologis yang menandai kemampuan seseorang untuk mengenal dan memaknakan sesuatu objek yang ada di lingkungannya. Menurut Scheerer persepsi adalah representasi phenomenal tentang objek distal sebagai hasil dari pengorganisasian dari objek distal itu sendiri, medium dan rangsangan proksinal (Salam; 1994). Dalam persepsi dibutuhkan adanya objek atau stimulus yang mengenai alat indera dengan perantaraan syaraf sensorik, kemudian diteruskan ke otak sebagai pusat kesadaran (proses psikologis). Selanjutnya, dalam otak terjadilah sesuatu proses hingga individu itu dapat mengalami persepsi (proses psikologis). Psikologi kontemporer menyebutkan persepsi secara umum diperlukan sebagai satu variabel campur tangan (intervening variabel), bergantung pada faktor-faktor motivasional. Artinya suatu objek atau satu kejadian objektif ditentukan baik oleh kondisi perangsang maupun oleh faktor-faktor organisme. Dengan alasan sedemikian, persepsi mengenai dunia oleh pribadi-pribadi yang berbeda juga akan berbeda, karena setiap individu menanggapinya berkenaan dengan aspek-aspek situasi tadi yang mengandung arti khusus sekali bagi dirinya (Chaplin, J.P; 1999). Proses pemaknaan yang bersifat psikologis sangat dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan dan lingkungan sosial secara umum. Sarwono mengemukakan bahwa persepsi juga dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman dan cara berpikir serta keadaan perasaan atau minat tiap-tiap orang sehingga persepsi seringkali dipandang bersifat subjektif. Karena itu tidak mengherankan jika seringkali terjadi perbedaan paham yang disebabkan oleh perbedaan persepsi antara 2 orang terhadap 1 objek. Persepsi tidak sekedar pengenalan atau pemahaman tetapi juga evaluasi bahkan persepsi juga bersifat inferensional. Sabri kepadanya (1993) melalui mendefinisikan alat inderanya, persepsi sebagai aktivitas yang itulah memungkinkan manusia mengendalikan rangsangan-rangsangan yang sampai menjadikannya kemampuan
dimungkinkan individu mengenali milleu (lingkungan pergaulan) hidupnya. Proses persepsi terdiri dari tiga tahap yaitu tahapan pertama terjadi pada pengideraan diorganisir berdasarkan prinsip-prinsip tertentu, tahapan ketiga yaitu stimulasi pada penginderaan diinterprestasikan dan dievaluasi. Mar’at (1981) mengatakan bahwa persepsi adalah suatu proses pengamatan seseorang yang berasal dari suatu kognisi secara terus menerus dan dipengaruhi oleh informasi baru dari lingkungannya. Riggio (1990) juga mendefinisikan persepsi sebagai proses kognitif baik lewat penginderaan, pandangan, penciuman dan perasaan yang kemudian ditafsirkan. Mar'at (Aryanti, 1995) mengemukakan bahwa persepsi di pengaruhi oleh faktor pengalaman, proses belajar, cakrawala, dan pengetahuan terhadap objek psikologis. Rahmat (dalam Aryanti, 1995) mengemukakan bahwa persepsi juga ditentukan juga oleh faktor fungsional dan struktural. Beberapa faktor fungsional atau faktor yang bersifat personal antara kebutuhan individu, pengalaman, usia, masa lalu, kepribadian, jenis kelamin, dan lain-lain yang bersifat subyektif. Faktor struktural atau faktor dari luar individu antara lain: lingkungan keluarga, hukumhukum yang berlaku, dan nilai-nilai dalam masyarakat. Jadi, faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi terdiri dari faktor personal dan struktural. Faktor-faktor personal antara lain pengalaman, proses belajar, kebutuhan, motif dan pengetahuan terhadap obyek psikologis. Faktor-faktor struktural meliputi lingkungan keadaan sosial, hukum yang berlaku, nilai-nilai dalam masyarakat.
BAB II Pembahasan
1. Pengertian persepsi Persepsi adalah suatu proses pengenalan atau identifikasi sesuatu dengan menggunakan panca indera (Dreverdalam Sasanti, 2003). Kesan yang diterima individu sangat tergantung pada seluruh pengalaman yang telah diperoleh melalui proses berpikir dan belajar, serta dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri individu. Persepsi sosial menurut David O Sears adalah bagaimana kita membuat kesan pertama, prasangka apa yang mempengaruhi mereka, jenis informasi apa yang kita pakai untuk sampai pada kesan tersebut, dan bagaimana akuratnya kesan itu (David O Sears, et. al, 1994). Menurut Istiqomah dkk, Persepsi sosial mengandung unsur subyektif. Persepsi seseorang bisa keliru atau berbeda dari persepsi orang lain. Kekeliruan atau perbedaan persepsi ini dapat membawa macam-macam akibat dalam hubungan antar manusia. Persepsi sosial menyangkut atau berhubungan dengan adanya rangsangan-rangsangan sosial. Rangsangan-rangsangan sosial ini dapat mencakup banyak hal, dapat terdiri dari (a) orang atau orang-orang berikut ciri-ciri, kualitas, sikap dan perilakunya, (b) persitiwa-peristiwa sosial dalam pengertian peristiwa-peristiwa yang melibatkan orang-orang, secara langsung maupun tidak langsung, norma-norma, dan lain-lain (Istiqomah, dkk, 1988). Penelitian lain menunjukkan bahwa proses persepsi juga dipengaruhi oleh pengalaman belajar dari masa lalu, harapan dan preferensi (Bartol & Bartol, 1994). Terkait dengan persepsi sosial, Istiqomah menyebutkan ada 3 hal yang mempengaruhi, yakni 1) variabel obyek-stimulus, 2) variabel latar atau suasana pengiring keberadaan obyek-stimulus, dan 3) variabel diri preseptor (pengalaman, intelegensia, kemampuan menghayati stimuli, ingatan, disposisi 3 kepribadian, sikap, kecemasan, dan pengharapan) (Istiqomah, dkk, 1988). Ada tiga dimensi yang terkait dengan persepsi, menurut Osgood tentang konsep diferensial semantik menjelaskan tiga dimensi dasar yang terkait dengan persepsi, yakni evaluasi (baik-buruk), potensi (kuat-lemah), dan aktivitas (aktif-
pasif). Menurutnya evaluasi merupakan dimensi utama yang mendasari persepsi, disamping potensi dan aktivitas (David O Sears, et. al, 1994). Menurut Brehm dan Kassin (1989), persepsi sosial adalah penilaianpenilaian yang terjadi dalam upaya manusia memahami orang lain. Tentu saja sangat penting, namun bukan tugas yang mudah bagi setiap orang. Tinggi, berat, bentuk tubuh, warna kulit, warna rambut, dan warna lensa mata, adalah beberapa hal yang mempengaruhi persepsi sosial. Contohnya di Amerika Serikat, wanita berambut pirang dinilai sebagai seorang yang hangat dan menyenangkan. Persepsi sosial terdiri atas tiga elemen yang merupakan petunjuk-petunjuk tidak langsung ketika seseorang menilai orang lain. Tiga elemen tersebut bersumber pada: pribadi (person), situasi (situation) dan perilaku (behavior). Proses pembentukan persepsi sosial berdasarkan penilaian pribadi, antara lain yang dilakukan dengan cepat, ketika melihat penampilan fisik seseorang. Termasuk di dalamnya jenis kelamin, usia, ras, latar belakang etnik, dan beberapa aspek demografi lain. Sebagaimana kita percaya manusia terbagi dalam beberapa tipe, demikian pula kita memiliki konsep awal tentang beragam situasi berdasarkan pengalaman terdahulu. Situasi sering dianggap sebagai naskah kehidupan. Semakin banyak pengalaman yang orang miliki dalam satu situasi, maka semakin terperinci isi naskah yang disusunnya mengenai situasi tersebut. Ketika seseorang merasa sangat akrab dengan tipe situasi tertentu, maka peristiwa-peristiwa akan terletak tepat pada tempatnya, bagaikan potonganpotongan puzzle yang tersusun rapi. Hal ini berarti, semakin kaya pengalaman hidup seseorang, semakin bijak persepsi sosial yang dibentuknya dari situasi. Elemen perilaku adalah mengidentifikasi perilaku yang diproduksi oleh aktivitas seseorang. Perilaku membutuhkan bukti-bukti yang dapat diamati.Ketajaman pengamatan seseorang menentukan persepsi sosial yang dibentuknya berdasarkan gejala-gejala perilaku orang lain. Orang mengandalkan perilaku nonverbal untuk menguatkan penilaiannya, namun sering kali hasilnya kurang akurat. Masalahnya terletak pada terlalu banyak perhatian yang ditujukan pada kata-kata dan ekspresi wajah. Tombol komunikasi sepenuhnya berada di bawah kendali orang yang dinilai, sehingga ia dapat mengatur kata-kata dan
ekspresinya. Namun isyarat bahasa tubuh dan perubahan intonasi suara adalah petunjuk yang sangat berharga dalam proses persepsi sosial bersumber pada elemen perilaku. Penelitian membuktikan persepsi sosial yang kita lakukan dalam upaya membangun relasi interpersonal sering cukup akurat, namun tidak selalu demikian. Dalam hal inilah perlu dilakukan pengasahan mendalam agar kita dapat lebih tajam menilai orang lain. Tak kalah penting untuk dipahami adalah dua perbedaan radikal dalam pembentukan persepsi sosial. Pertama, proses yang cepat dan otomatis. Tanpa terlalu banyak berpikir, menimbang, berhati-hati, dengan cepat orang menilai orang lain berdasarkan penampilan fisik, naskah kehidupan yang telah tersusun sebagai konsep awal situasi, dan hasil pengamatan perilaku yang terjadi seketika. Kedua, proses yang dilalui dengan penuh pertimbangan. Orang mengamati orang lain secara seksama dan menunda penilaian, sampai ia selesai menganalisis orang tersebut berdasarkan ketiga elemen persepsi sosial. Pada dasarnya kedua cara yang berbeda dalam membentuk persepsi sosial sah-sah saja dilakukan. Adakalanya penilaian dibuat seketika. Misalnya pada perjumpaan yang singkat. Namun pada saat lain diperlukan pertimbangan matang dan analisis yang panjang sebelum persepsi dibentuk. Tetap Perlu Berhati-hatikah?Tentu saja kita tetap perlu berhati-hati. Penjelasan di atas memberikan latar belakang yang layak diyakini betapa persepsi sosial sangat penting dalam konteks hubungan antarmanusia. Persepsi sosial yang memproduksi prasangka, berpotensi untuk berlanjut dalam tindakan-tindakan tertentu yang dapat menguatkan keutuhan hubungan atau sebaliknya malah merusak dan memporakporandakan persatuan Bagaimana mungkin muncul tawuran antarpelajar, atau bahkan antarwarga,tanpa diawali persepsi sosial? Sayangnya saat ini orang semakin tidak sadar, bahkan hampir tidak mau tahu, bahwa persepsi sosial negatif atau prasangka buruk yang dibentuknya mengenai orang atau kelompok lain, berkekuatan memicu perpecahan. Citra manusia sejati adalah manusia yang membangun persepsi sosial positif, tidak mudah menilai buku hanya dari sampulnya, namun juga waspada
dalam bertindak. Artinya, tidak berprasangka buruk, namun juga tidak mudah terkecoh oleh penampilan. Orangtua sering terdengar memberi nasihat supaya anak-anaknya berhati-hati dalam pergaulan. Kehati-hatian menilai orang lain sangat penting, karena kancah pergaulan sosial adalah situasi yang kompleks. Nasihat yang baik dapat menjadi lebih efektif apabila disertai contoh perilaku dan cara melakukannya. Jangan hanya mengharapkan anak-anak saja yang berhatihati, sementara orangtua serta orang dewasa lepas kendali dan tanggung jawab mengenai persoalan ini. Berhati-hati berarti waspada, jitu dan bijak membentuk persepsi sosial dalam hubungan antar manusia.
BAB III Penutup
Pelaku orang lain dan menarik kesimpulan tentang penyebab perilaku tersebut atribusi dapat terjadi bila:1). Suatu kejadian yang tidak biasa menarik perhatian seseorang, 2). Suatu kejadian memiliki konsekuensi yang bersifat personal, 3). Seseorang ingin mengetahui motif yang melatarbelakangi orang lain (Shaver, 1981; Lestari, 1999). Brems & Kassin (dalam Lestari, 1999) mengatakan bahwa persepsi sosial memiliki beberapa elemen, yaitu: a. Person, yaitu orang yang menilai orang lain. b. Situasional, urutan kejadian yang terbentuk berdasarkan pengalaman orang untuk meniiai sesuatu. c. Behavior, yaitu sesuatu yang di lakukan oleh orang lain. Ada dua pandangan mengenai proses persepsi, yaitu: 1.) Persepsi sosial, berlangsung cepat dan otomatis tanpa banyak pertimbangan orang membuat kesimpulan tentang orang lain dengan cepat berdasarkan penampilan fisik dan perhatian sekilas. 2.) Persepsi sosial, adalah sebuah proses yang kompleks, orang mengamati perilaku orang lain dengan teliti hingga di peroleh analisis secara lengkap terhadap person, situasional, dan behaviour. Maka dapat diambil kesimpulan bahwa persepsi suatu proses aktif timbulnya kesadaran dengan segera terhadap suatu obyek yang merupakan faktor internal serta eksternal individu meliputi keberadaan objek, kejadian dan orang lain melalui pemberian nilai terhadap objek tersebut. Sejumlah informasi dari luar mungkin tidak disadari, dihilangkan atau disalahartikan. Mekanisme penginderaan manusia yang kurang sempurna merupakan salah satu sumber kesalahan persepsi (Bartol & Bartol, 1994).


Pembentukan kesan
(impression management)
• Pembentukan kesan adalah faktor penting dalam persepsi sosial
• Pembentukan kesan pertama terhadap seseorang yang baru bertemu terjadi dalam waktu sangat pendek: 1 detik bahkan kurang, relatif tanpa usaha
• Penyebabnya: implicit personality theory, yaitu kecenderungan kita untuk menggabungkan beberapa sifat (misalnya: orang cantik pasti baik, brandalan pasti jahat)
• Kesan pertama seringkali salah karena kita lebih percaya pada teori kita sendiri drpd kenyataan
Pembentukan kesan
• Berbagai studi memperlihatkan bahwa walaupun pembentukan kesan kita akan orang lain terjadi dalam waktu singkat dan relatif tanpa usaha, di balik itu terdapat proses kognitif yang rumit.
• Kita membentuk kesan tentang orang lain melalui informasi2 tentang ybs, informasi positif cenderung membangun kesan positif.
• Pembentukan kesan bersifat dinamik, bisa berubah sejalan dengan perubahan pengalaman kita dengan orang ybs
• Dalam pembentukan kesan pengalaman langsung dan perspektif kognitif saling mempengaruhi

Hubungan sosial
Melalui perkawinan
Di antara para pendatang yang melakukan kegiatan perdagangan, perindustrian, penjelajahan, dan penyebaran agama, banyak yang melakukan pernikahan dan membentuk kehidupan keluarga dengan penduduk asli Indonesia. Perkawinan ini menyebabkan terjadinya persilangan antara bangsa dan ras yang berbeda tersebut. Dilihat dari prosesnya, perkawinan antarras atau etnik (suku bangsa) ini merupakan suatu bentuk asimilasi secara fisik, sebab proses penyatuan tersebut meliputi fisik orang-orang yang terlibat di dalamnya. Perkawinan antaretnik sangat efektif dalam mewujudkan integrasi (penyatuan) karena perbedaan-perbedaan yang berpotensi menjadi pemicu konflik dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan sama sekali.
Melalui pendidikan
Hubungan dalam bidang perdagangan, industri, dan perkawinan antaretnik akan memberikan peluang untuk terjadinya interseksi dalam bidang pendidikan sebab keturunan-keturunan mereka akan bersekolah di wilayah-wilayah yang mayoritas siswanya berbeda ras dan kebudayaan. Dalam bentuk yang lebih tinggi juga telah dilakukan pertukaran pelajar, lomba-lomba bidang sains dan teknologi tingkat pelajar, dan lain-lain.
Politik
Hubungan diplomatik atau hubungan antarnegara juga akan menyebabkan terjadinya proses interseksi di antara para pejabat dan utusan negara masing-masing. Hal ini mudah dipahami karena mereka akan menetap, bekerja, dan berhubungan sosial dengan orang-orang yang berasal dari ras dak kebudayaan yang berbeda-beda. Hubungan antarnegara ini, selain bermaksud untuk meningkatkan hubungan dalam bidang ekonomi, juga untuk mempererat persaudaraan antarnegara. Interseksi yang akan terjadi meliputi semua bidang, antara lain politik, sosial, ekonomi, kebudayaan, dan agama.
HUBUNGAN SOSIAL
MENDISKRIPSIKAN BENTUK-BENTUK HUBUNGAN SOIAL

Kriteria Bentuk Hubungan Sosial
Terjadi karena semua kelompok di klasifikasikan oleh kinloch memiliki kriteria sebagai berikut :
Kriteria ciri-ciri fisik
*Yaitu jenis kelamin, usia dan ras
Kriteria kebudayan
*yaitu seperti faktor agama kebudayaan Aceh, Minangkabau, Jawa dan Minahasa
Kriteria ekonomi
Dibedakan antara mereka yang mempunyai kekuasaan ekonomi dan tidak
Kriteria perilaku
*dikelompokan berdasarkan cacat fisik, cacat mental, penyimpangan terhadap aturan masyarakat

Hubungan Antar Kelompok
Dimensi sejarah
*diarahkan pada masalah tumbuh dan berkembangnya hubungan antara kelompok
Dimensi sikap
*dimensi sikap menentukan sukses tidaknya suatu hubungan sosial
Contoh:-suatu kelompok yang memberikan respon negative kepada kelompok lain, hubungan sosial tak akan terjalin dengan baik begitu sebaliknya.
Dimensi intitusi
*sikap yang dimiliki oleh suatu keluarga terhadap keluarga lain juga atau sering ditunjang dan bahkan diperkuat oleh intitusi dalam masyarakat seperti intitusi ekonomi dan politik.contoh adanya diskriminasi dan prasangka.

Bentuk-Bentuk Hubungan Sosial
Hubungan sosial merupakan hubungan yang terwujud antara individu dan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok sebagai akibat dari hasil interaksi diantara sesama mereka.
1) Menurut Status
Hubungan tertutup
*Yaitu hubungan sosial yang terjadi dalam satu golongan sosial tertentu, misalnya golongan bangsawan bergaul hanya dengan sesame bangsawan.
Hubungan terbuka
*Yaitu bentuk hubungan sosial yang di sebabkan oleh perbadaan setatus di masyarakat, bukan oleh kelompok sosial, misalnya hubungan antara pimpinan dengan bawahan, hubungan antara guru dengan siswa, hubungan antara majikan dengan karyawan, dan sebagainya.
2) Menurut Tingkat
Hubungan sosial horizontal
*Yaitu hubungan sosial antara individu atau kelompok yang sederajat yang saling berkepentingan yang sama misalnya, hubungan antara siswa dengan siswa, guru dengan guru, hubungan antara karyawan dan sebagainya.
 Hubungan sosil vertical
*Yaitu bentuk hubungan sosial yang didasarkan pada perbedaan kedudukan.misalnya antara pemimpin dengan bawahan.dalam hubungan ini seorang bawahan tidak dapat memerintahkan atasan tetapi sebaliknya atasan yang memberi perintah ke bawahan.

3) menurut waktu
hubungan temporer
*yaitu bentuk hubungan sosial yang sifatnya sementara atau dalam waktu tertentu.
Contoh:
@)anda bepergian naik kereta umum, bentuk hubungan anda dengan karyawan angkutan, itu hanya sampai ketempat tujuan.
@)pekerja yang dikontrak, bila kontraknya sudah habis sesuai dengan perjanjian, hubungan pekerja dengan yang memberikan kontrakan telah putus atau habis.
hubungan permanen
*yaitu bentuk hubungan sosial yang sifatnya lama, bahkan dapat seumur hidup
@)hubungan antara ayah, ibu dan anak
4) Menurut Kepentingan
Hubungan sosial primer
*Yaitu hubungan sosial yang bersifat pribadi hubungan pribadi tersebut melekat pada kepribadian seseorang, dan tidak dapat diganti oleh orang lain
Contoh:
@)Didik mempunyai hubungan pribadi dengan Devi, maka hubungan pribadi tersebut hanya terjadi antara Didik dan Devi, tidak mungkin kakak atau adik Devi yang menggantikannya.
Hubungan sosial sekunder
*Yaitu hubungan sosial yang bersifat formal (resmi) impersional (terpisah-pisah(tidak bersifat pribadi) dan seg mental (terpisah-pisah) yang didasarkan asas manfaat.
Contoh:
@)penyajian kontrak antara 2 pihak, baik sebagai individu maupun sebagai organisasi.misalnya kontrak jual bali.
5) Menurut Kelompok
Pagayuban (gemeinschaft)
Adalah bentuk kehidupan bersama yang anggotanya diikat oleh suatu hungan batin yang murni dan alamiah serta bersifat kekal.
Ciri-ciri pokok paguyuban :
Hubungan menyeluruh yang harmonis
Hubungan yang bersifat pribadi/yaitu kusus untuk beberapa orang saja (prifate)
Hubungan hanya untuk kalangan sendiri dan bukan untuk orang lain dari luar (exclusive)
Bentuk-Bentuk paguyuban :
1) Paguyuban karena ikatan darah/keturunan.
Contoh:keluarga dan kelompok kekerabatan
2) Paguyuban karena tempat
Terbentuk karena tempet tinggal antara individu berdekata sebagai dapat saling tolong menolong
Contoh:Rukun tetangga dan rukun Warga
3) paguyuban karena jiwa pikran ,ideologi orang –orang yang tidak memiliki hubungan darah
Patembayan (gaselschaft)
Adalah ikatan lahiriah yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek.terbentuk oleh kemampuan pikiran (imaginasy) serta strukturnya bersifat mekanis yang memiliki beberapa komponen.
Contoh : ikatan antara pedagang dan organisasi dalam suatu pabrik/industri.
- Patembayan didominasi oleh bermacam-macam organisasi:
a. Bentuk hubungan sosial masyarakat perkotaan, cenderung memiliki bentuk campuran antara paguyugan dan patambayan. Karena warga memiliki kesibukan dan waktunya sedikit untuk bertemu warga lain.
b. Bentuk hubungan sosial di pedesaan. Masyarakat pedesaan sanantiasa meluangkan waktunya untuk berkumpul dengan tetangga. Hal ini melihatkan system patambayan.
 Tawar-menawar (bargaining)
Adalah persetujuan antara pihak-pihak mengikat diri atau berseketa melalui perdebatan dan pengajuan usul.
Kooptasi (cooptation)
Adalah suatu proses penerimaan unsur-unsur baru oleh pemimpin suatu organisasi sebagai salah satu cara untuk menghindari terjadinya kegoncangan dalam organisasi.
Koalisi (coalition)
Adalah kombinasi antara dua organisasi/lebih dengan tujuan yang sama, misalnya untuk memperkuat diri.
Usaha patungan (joint venture)
Adalah suatu bentuk kerja sama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu yang bertujuan untuk saling menjalin hubungan kerja sama dalam bidang ekonomi ataupun sosial dan untuk menampung tenaga kerja dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan sosial.
Contoh : pengeboran minyak bumi, pertambangan biji besi, pembangunan jalan bebas hambatan
6) Bentuk Hubungan Sosial Antar Kelompok
Bentuk hubungan sosial merupakan wujud aktifitas masyarakat yang saling berhubungan antara dua kelompok atau lebih yang mempunyai dasar dan ciri-ciri kusus.
Fisiologtis
Adalah pengelompokan hubungan sosial yang didasarkan pada perbedaan jenis kelamin misalnya laki-laki dengan perempuan,tua dengan muda,dan perbedaan RAS atau bangsa kulit hitam dan kulit putih
Kebudayaan
Adalah pengelompokan yang didasarkan pada kelompok yang diikat oleh persamaan kebudayaan, misalnya kelompok etnik seperti suku Aceh, Minangkabau, Dayak, dll.
 Ekonomi
Adalah pengelompokan yang didasarkan pada sifat pengutamaan nilai kegunaan dan kepraktisan dari suatu barang.
Perilaku
Adalah pengelompokan yang didasarkan pada nilai-nilai dan norma-norma di dalam kehidupan bermasyarkat.

7) Bentuk Hubungan Sosial Berdasarkan Dimensi Antar Kelompok
Kinloch berpendapat bahwa bentuk hubungan sosial antar kelompok memiliki beberapa dimensi yang berlainan yaitu
Dimensi Sejarah
Kerajinan materi dari sudut dimensi sejarah dapat diarahkan pada masalah tumbuh dan berkembangnya hubungan antar kelompok sosial dari masa kemasa
Contoh:-kapan kontak sosial pertama antara kelmpok RAS kulit putih dengan kelompok RAS kulit hitam terjalin
Dimensi Geografi
Bentuk hubungan sosial ini dapat diam arti melalui masalh perubahan yang meliputi pertumbuhan penduduk,persebaran penduduk,jumlah penduduk dan sebaiknya
 Dimensi Sikap
Adalah dimensi yang dinilai dari reaksi seseorang untuk menerima atau menolak suatu obyek.
Dimensi Institusi Atau Lembaga Sosial
Koentjaraningrat menjelaskan bahwa lembaga sosial adaah satuan system norma kusus yang meneta serangkaian yang berpola untuk keperluan kusus manusia dalam kehidupan bermasyarakat.
Dimensi Gerakan Sosial
Merupakan suatu dimensi yang sudut pandangnya memperhatikan berbagai gerakan sosial yang sering dilancarkan oleh suatu kelompok untuk membebaskan diri dari dominasi kelomok lain
Contoh gerakan Afrikan National Kongres atau ANC, gerakan kelompok usia lanjut atau Grey Fanthers.
Dimensi Perilaku
Adalah perbuatan atau sikap suatu kelompok terhadap anggota kelompok lain yang bersifat negative, positif,dan dekstruktif.
Contoh:Konflik antara palestina dengan Israel di Asia Barat hingga kini menimbulkan jatuhnya korban di kedua belah pihak.

8) Bentuk Hubungan Sosial Berdasarkan Kelompok Mayoritas dan Minoritas.
Kinloch berpendapat bahwa mayoritas dengan minoritas dapat dibedakan berdasarkan jumlah anggota dan kualitas SDM.
Berdasarkan jumlah anggota
Hubungan sosial kelompok mayoritas berdasarkan jumlah anggota dapat didefinisikan sebagai suatu kelompok besar yang memiliki kekuasaan dan kelompok tersebut memandang dirinya normal tetapi dip[andang tidak normal serta lebih rendah.
Berdasarkan kualitas SDM.
Kinloch menjelaskan bahwa kelompok mayoritas dapat terdiri atas sejumlah besar orang lain.
Contoh : Kelompok kulit putih di Afrika Selatan merupakan kelopok mayoritas karena menguasai warga berkulit hitam.
Mely G.Tan berpendapat bahwa perbedaan antara mayoritas adalah berdasarkan pada jumlah anggota kelompok.
Contoh : kelompok kecil kaum terdidik dengan kaum tak terdidik.

9) Bentuk hubungan sosial berdasarkan RAS, RASISME, dan rasialisme.
RAS
RAS secara sosial adalah bentuk hubungan timbal antara manusia atau masyrakat sebagai satu kesatuan
Ciri-ciri kualitatif:
-Warna kulit
- rambut
- lipatan mata

Ciri-ciri kuntitatif:
- bentuk badan
- Berat badan
- indeks kepala
 RASISME
Enurut pendapat komblum rasisme adalah pahan atau ideologi yang didasarkan atas keyakinan dan ciri-ciri tertentu yang dibawa manusia sejak lahir,serta terkait dengan setatus yang lebih rendah (contohnya jenis kelamin)rasisme umumnya merujuk ideology dan terkait diskriminasi.
 Rasialisme
Rasialisme umumnbya merujuk pada prakterk diskriminasi terhadap anggota kelompok lain

10) Bentuk hubungan sosial berdasar kan kelompok etnik.
Etnik mempelajari kehidupan manusia yang berdasarkan atas persamaan dan perbedaan budaya bangsa-bangsa di Dunia, seperti cara berpikir adapt istiadat pada masa lampau hingga sekarang.
Contoh:pola perilaku, adat istiadat, Dll. Francis,mengklasifikasikan kelompok etnik yang ditandai dengan persamaan warisan kebudayaan dan ikatan batin antar anggotanya.
Dampak bentuk hubungan sosial dalam masyrakat.
Positif :
terjadinya kerja sama antar warga
Terbentuknya kelompok organisasi
Kebutuhan Masyarakat terpenuhi
meningkatkan pertumbuhan ekonomi
terwujudnya demokrasi
 Masyarakat berpikiran maju
memunculkan pembagian kerja di masyarakat sesuai dengan kemampuan
mempererat persahabatan
mendorong proses internalisasi, yaitu proses penghayatan berlangsung sepanjang hidup.
 mempermudah proses sosialisasi.
mempermudah proses enkulturasi yaitu menyesuaikan pikiran serta sikap terhadap adat, system, norma,dsb
Tejadinya akuturasi positif, yaitu percampuran dua kebudayaan atau lebih, tetapi tidak menghilangkan kepribadian dari masing-masing kebudayaan.
Terjadinya difusi yaitu proses penyebaran manusia ke seluruh dunia.
Negative:
Timbulnya ketegangan dan pertengkaran sosial, perbedaan pendapat, dan pandangan dalam hubungan sosial yang tidak dapat terselesaikan dan sering menimbulkan ketegangan sosial dan bahkan ada kalanya muncul menjadi konflik fisik
Persaingan tidak sehat
Dapat memunculkan sikap otoriter
Terjadi akuturasi negatif, yaitu dua kebudayaan yang saling mempengaruhi menjadikan hilangnya kepribadian dari dua kebudayaan itu.
Terjadinya asimilasi yaitu proses sosial yang timbul jika muncul budaya yang berbeda yang lama kelamaanbudaya asli akan nerubah membentuk kebudayaan baru.
Pendekatan hubungan sosial
 pendekatan individu
contoh:pernikahan dari dua individu yang memiliki perbedaan ciri fisik.
Misalnya orang dalam negeri dengan orang luar negeri.
Pendekatan kelompok
Dapat diamati dari perbedaan ciri fisik yang biasanya mengarah pada etnik tertentu dan hubungan budaya. Hubungan tersebut akan melahirkan asimilasi dan amelgasi serta prasangka (selalu melawan hukum ) dan diskriminasi
Faktor-faktor pendorong hubungan sosial
Kesamaan asal (daerah) atau bahasa
Kesamaan agama
Hubungan keluarga
 Hubungan kerja
Kesamaan idiologi (diwujudkan dalam sebuah organisasi)
 Kesamaan kepentingan
Kesamaan tempat tinggal/domisili
Faktor sosial (sebagai makluk sosial, seseorang tidak mungkin dapat hidup sendiri)
Faktor ekonomi (seseorang membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhanya)
 Faktor pendidikan
Faktor penghambat hubungan sosial
Hambatan sosiologis
Berkaitan dengan setatus sosial, agama, idiologi, tingkatan pendidikan, tingkatan kekayaan, dsb
Hambatan antropologis
Hubungan dengan perbedaan ras/suku bangsa.
Hambatan psikologis
Berkaitan dengan proses kejiwaan/mental baik normal ataupun abnormal.
Contoh : orang gila sulit berkomunikasi dangan orang normal maupun abnormal.
Hambatan ekologis
1. kondisi ekologis
adalah keadaan mengenai hubungan timbal balik antara makluk hidup dan alam sekitar/lingkungan.
2. Hambatan ekologis
Hambatan ekologis berarti terjadinya gangguan lingkungan terhadap berlangsungnya suatu hubungan sosial. Hambatan ekologis dapat berupa cuaca buruk, letak geografis, bencana alam, dll


Hubungan Sosial
1. a. Pengertian Hubungan Sosial
Adalah : Suatu kegiatan yang menghubungkan kepentingan antarindividu, individu dengan kelompok atau antar kelompok yang secara langsung ataupun tidak langsung dapat menciptakan rasa saling pengertian dan kerja sama yang cukup tinggi, keakraban, keramahan, serta menunjang tinggi persatuan dan kesatuan bangsa.

b. Contoh hubungan sosial
Adalah gotong royong, kepekaan sosial.

c. Bentuk-Bentuk Hubungan Sosial
1) Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok sosial : Paguyuban, Patembayan.
2) Bentuk hubungan sosial berdasarkan klasifikasi
Antar kelompok : Fisiologis dan kebudayaan.
3) Bentuk hubungan sosial berdasarkan dimensi antar kelompok : demografi dan sikap.
4) Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok mayoritas dan minoritas.
5) Bentuk-bentuk hubungan sosial berdasarkan ras, rasisme, dan rasialisme : ras & rasisme.
6) Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok etnik.
7) Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok dimensi sejarah : Etnosentrisme & persaingan.
8) Bentuk hubungan sosial berdasarkan pola hubungan sosial antar kelompok : Akulturasi.
9) Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok sosial : Prasangka & Institusi.

2. a. Pengertian kebutuhan integrative
Adalah : kebutuhan manusia untuk menyalurkan kemampuannya sebagai makhluk pemikir & bermoral yang berfungsi untuk mengintegrasikan berbagai kebutuhan dan kebudayaan menjadi satu kesatuan sistem yang bulat dan menyeluruh serta masuk akal bagi para pendukungnya.

b. Contoh kebutuhan integrative
Adalah : rekreasi dan hiburan, perasaan benar / salah, perasaan adil / tidak adil, serta perasaan kolektif / kebersamaan.

3. a. Pengertian kebutuhan sosial
adalah : Kebutuhan manusia untuk berinteraksi dan melibatkan diri dengan orang laut dapat hidup secara berkelompok.
b. Contoh kebutuhan sosial
Adalah : Kegiatan bersama, sistem pendidikan, berkomunikasi dengan sesama, keteraturan sosial dan kontrol sosial, serta kepuasaan batin dari suatu keberhasilan yang diperoleh.

4. a. Pengertian pranata sosial
adalah : Seperangkat aturan / tata cara dalam masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial.

b. Fungsi pranata sosial
(1) Menurut Soebjono Soefanto, yaitu :
memberikan pedoman pada anggota-anggota masyarakat, bagaimana harus bersikap / bertingkah laku dalam menghadapi masalah-masalah yang muncul dan berkembang dilingkungan masyarakat, terutama yang menyangkut hubungan pemenuhan kebutuhan.
(2) Menurut Horton dan Hunt, yaitu :
fungsi Manifes / fungsi nyata :
yaitu : fungsi pranata yang disadari dan diakui oleh seluruh masyarakat.
Fungsi Earten / terselubung :
Yaitu : fungsi pranata yang tidak disadari dan mungkin tidak dikehendaki, atau jika diakui dianggap sebagai hasil sampingan dan biasanya tidak dapat diramalkan.

c. Tipe-Tipe Pranata Sosial
1) Berdasarkan perkembangannya, yaitu :
* Crescive Institution
* Enacted institution
2) Berdasarkan sistem nilai yang diterima masyarakat, yaitu :
* Basic institution
* Subsidiary institution
3) Berdasarkan penerimaan masyarakar, yaitu :
* Approved / social sanctioned institution
* Unsactioned institution
4) Berdasarkan factor penyebabnya, yaitu :
* General institution
* Restricted institution
5) Berdasarkan fungsinya, yaitu :
* Operative institution
* Regulative institution


d. Tujuan pranata
• Menurut Koentjaraningrat, yaitu :
Untuk memenuhi kebutuhan sosial dan keberatan : untuk memenuhi kebutuhan sosial dan kekerabatan (domestic institutions). Contoh : perkawinan, keluarga, dan pengasuhan anak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar