Tes Psikologi

Syarat-Syarat Tes Psikologi

Pembakuan (standarisasi)
Pelaksanaan dan penskoran adalah sama pada setiap saat digunakan. Dan ini berarti ada norma-norma yang tersedia. Seharusnya seperangkat petunjuk pelaksanaan dan seharusnya diikuti dengan tepat pada setiap kali tes dilaksanakan. Lingkungan fisik, material, dan perlengkapan harusnya tetap sama. Pensekoran harusnya tes harusnya menggunakan seperangkat jawaban yang telah ditetapkan sebelumnya.
Melibatkan penetapan norma-norma untuk memberi arti terhadap suatu skor dalam kaitanya dengan beberapa referensi pokok. Tujuanya adalah agar setiap testi mendapat perlakuan yang sama.
Keobjektifan
Yang berarti bahwa pensekoran adalah bebas dari kesubjektifan opini pemberi skor. Pada suatu tes objektif , pengambilan tes seharusnya memperoleh skor yang sama dari pemberi skor yang berbeda. Dengan tujuan agar bias, opini, sikap-sikap, dll tidak mempengaruhi hasilnya. Tipe tes objektif paling lazim adalah berisi pertanyaan multiple choise. Lainya adalah true or false.
Reabilitas
Memberi hasil yang sama pada percobaan yang dilakukan berulang-ulang. Conny Semiawan mengunkapkan bahwa pengertian reabilitas menunjuk pada ketetapan (konsistensi) dari nilai-nilai yang diperoleh sekelompok individu dalam kesempatan yang berbeda dengan tesyang sama atau ekuivalen. Hal ini didasari dari kesalahan ukuran yang mungkin terjadi pada nilai tunggal tertentu, sehingga susunan (urutan) dari kelompok tersebut berubah. Suatu tes yang reliable akan menghasilkan suatu hasil yang konsisten dengan percobaan yang telah dilakukan secara berulang-ulang atau dalam kesempatan yang berbeda dengan tes yang sama maupun item yang ekuivalen.
Ada 4 cara pokok dalam menentukan reabilitas tes, yaitu:
Test-Retest
Mengulang tes yang sama dalam kesempatan berikutnya. Tes yang memiliki reabilitas untuk beberapa bulan belum tentu memiliki reabilitas untuk bebrapa tahun. berikut hal yang perlu diingat pada retest;

Bila jangka waktu antar tes sering dilakukan latihan maka hasil tes berikutnya dapat menjadi lebih baik. Terutama jika tes dapat dilakukan dalam jangka waktu pendek, testi mungkin masih mengingatnya. Sehingga tes tersebut dapat saling bergantung, dan korelasi nilai akan amat tinggi.
Tes akan berubah dengan sendirinya pada saat pengulangan. Biasanya terjadi pada soal yang perlu pemahaman. Bila mudah dipahami maka tak sukar untuk memperoleh jawaban.
Ekuivalen (pararel)
Dua konselor menguji masing-masing tes dan menganggap bahwa tersebut seimbang. Masing-masing berisi proporsi item yang sama dengan tingkat kesukaran yang sama. jika skor sama pada kedua tes, dapat dikatakan korelasi akan tinggi. Koefesien reabilitas akan menjadi suatu koefesien ekuivalensi dimana taraf kedua bentuk tes yang sama adalah setara.
Split-Half
Membagi salah satu tes menjadi dua bagian yang sama, masing-masing memiliki jumlah item yang sama, setiap tes memiliki proporsi item yang sama, tingkat kesulitan yang sama, dan daya beda yang sama. Kita dapat memberi tes bagian I pada hari pertama dan tes II pada saat tes berikutnya.
Kuder-Richardson
metode ini menggunakan penghitungan statistik pada setiap item dan hasil-hasil koefesien.
Validitas
Kualitas terpenting dalam suatu tes. Validitas berarti mengukur apa yang seharusnya diukur. Merujuk pada pengertian apakah hasil tes sesuai dengan yang dirumuskan dan telah sampai mana tes itu telah mengukurnya.
Tiga kategori validitas tes yaitu:
Validitas konten/ Face Validity/ Sampling validity/ Factorial validity
Bertujuan untuk menguji sifat-sifat atau isi tes. Bentuk tes ini mengukur sampai dimana seseorang menguasai suatu kemampuan khususnya setelah memperoleh pelajaran tertentu. Validitas konten bertujuan untuk menganalisadan memahami proses psikologis yang mempengaruhi terwujudnya prestasi itu.
Validitas kriterion
Suatu relasi berada diantara hasil-hasil tes dan beberapa perilaku lainnya yang dikenal dengan kriterion. Suatu kriterion yang dikehendaki terjadi dalam lapangan konseling karir adalah job performance. Skor tes calon dikorelasikan dengan suatu ukuran job performance. Ada 2 cara pokok yang bisa dilakukan;

Prediktif = Ini digunakan apabila pertama mengumpulkan data tes, dan berikutnya dikumpulkan data (dalam kelompok yang sama) kriterion(job performance). Korelasi antara kedua kumpulan data ini adalah suatu ukuran validitas prediktif. jika penilaian validitas adalah baik, maka hasil-hasil tes ini dapat digunakan untuk memprediksi kriterion job performance. Dan tes itu memiliki validitas prediktif.
Konkurensi = jika data tes dan data kriterion dikumpulkan pada saat yang sama, dan hasilnya dikorelasikan maka kita telah menetapkan validitas konkurensi tes. Validitas suatu tes ditera dengan tolok ukur tes yang lain. Jika tolok ukurnya sama maka disebut “congruent validity”. Jika tolok ukurnya beda disebut “concurrent validity”. “Criterion” yang digunakan untuk memvalidasi tes yang dicoba harus valid dan reliable. Tipe validitas ini paling lazim digunakan daripada yang validitas prediktif.
Validitas konstruk
Validasinya dilakukan dengan mengkumulasikan traits yang diukur oleh tes yang bersangkutan (Soe Biono 1983). Ada langkah yang kompleks untuk menilai traits semacam itu melalui metode validasi konstruk. Tema yang paling sering adalah mempertimbangkan motivasi yang diberikan kepada individu. Kemudian dihubungkan dengan keberhasilan dalam bidang lain. Validitas konstruk tes untuk membantu memprediksi keberhasilan tahap lanjutan.
Daftar pustaka: Drs. Ketut S. Dewa.2003. “Analisis Tes Psikologis”. Rineka Cipta. Jakarta.186 – 197.



Pengertian test psikologi
Suatu pengukuran yang standar dan objektif terhadap sampel perilaku.
Persyaratan alat tes
Standarisasi — norma
Objektifitas
Reliabilitas
Validitas
Konsep dasar dan metodologis tes psikologi :
Angka kasar ( raw score ) tidak bermakna -> diberi makna berdasar norma
Norma :
Tingkat perkembangan yang dicapai : mental age, skala ordinal, grade equivalent
Posisi relatif dalam kelompok tertentu : persentile, standard score, deviasi IQ
Relativitas norma :
Interpretasi skor tes harus mengacu pada alat test yang digunakan
Norma tes tidak absolut, universal atau permanen
Perlu membandingkan skor dari tes yang berbeda atau membuat norma subkelompok / lokal
Testing dan budaya
Bias
Fairness
Culture
Kontrol penggunaan test psikologi
Alasan pembatasan akses tes psikologi
Pada orang yang tidak qualified, tes psikologi dapat berbahaya
Proses seleksi menjadi invalid bila testee mengetahui pertanyaan tes terlebih dahulu
Kebocoran isi item tes terhadap publik dapat merusak efikasi alat test
Penggunaan kompleksitas alat test
Level A : minimal training, non psikolog
Level B : memahami konstruksi tes Training statistik dan psikologi
Level C : minimum magister dalam psikologi
Kontrol penggunaan test psikologi
Peran pengguna :
Mencegah penyalahgunaan alat / hasil test
Seleksi terhadap alat test : Orientasi teoritis alat test, pertimbangan praktis, kesesuaian sampel standarisasi dan realibilitas dan validitas alat test
memahami proses administrasi dan skoring
interpretasi hasil tes

Kondisi testing
Ruang testing
Alat test
Rapport
Prosedur : Prosedur standar, mencatat kondisi test yang tidak biasa dan mempertimbangkan kondisi testing ketika menginterpretasikan hasil
Bentuk test :
test objektif
test proyektif
Aspek yang diungkap :
tes kemampuan
tes kepribadian
Batasan waktu :
Speed test
Power test
Banyak testi :
individual
kelompok
Cara menjawab :
verbal test
performance test
Peristiwa kejiwaan :
Tes pengamatan
tes intelegensi
Tes ingatan

Tipe tes psikologi yang utama
Tes intelegensi ( intelegence tests )
Tes Bakat ( aptitude tests )
Tes prestasi ( achievement test )
Tes kreativitas ( creativitiy test )
test kepribadian ( personality test )
Inventory minat ( interest inventory )
Prosedur perilakuan ( behavioral procedures )
tes neuropsikologi ( neuropsychological test )
Penggunaan test psikologi :
yang utama : membuat keputusan tentang seseorang
dibedakan : 1. klasifikasi, 2. diagnosis dan perencanaan treatment, 3. self knowledge, 4. program evaluasi, 5. penelitian
Klasifikasi : penempatan, screening, sertifikasi dan seleksi
Proses testing
Faktor yang mempengaruhi :
Cara administrasi
Mengikuti prosedur standar
penyaji familiar dengan material dan petunjuk test
peka terhadap ketidakmampuan testee
Menjaga ketepatan waktu
memberikan petunjuk yang jelas pada testee
Kondisi ruang yang nyaman
Karakteristik penyaji
Kemampuan dalam membangun rapport
Pengalaman penyaji
Konteks testing
Motivasi dan pengalaman testee
kejujuran testee
efek coaching terhadap hasil test
Methode scoring


Pengertian Tes Psikologi
1. Tes Psikologi merupakan suatu kegiatan pengukuran atau penilaian melalui upaya yang sistematik untuk mengungkap aspek aspek psikologi tertentu dari individu.
2. Tes Psikologi merupakan seperangkat alat ukur yang digunakan untuk memperolleh informasi tentang pikiran, perasaan, persepsi, dan perilaku seseorang guna membuat keputusan penilaian tentang seseorang.

B. Prinsip Pemeriksaan Psikologi
Dalam melakukan pemeriksaan psikologi, prinsip utama yang harus diingat adalah adanya perlakuan yang sama terhadap semua individu yang menjalani pemeriksaan, baik dalam berinteraksi, penyampaian administrasi tes maupun penyediaan sarana dan lingkungan pemeriksaan.
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam proses pemeriksaan psikologi adalah pemapaman sikap individu yang akan diperiksa, terutama menyangkut rapport, ego involvement, dan motivasi.
Rapport adalah interaksi yang positif, saling menerima tanpa prasangka dan tekanan antara tester dan individu yang diperiksa, yang dapat memberikan kesan bahwa tester adalah seorang yang ramah, dapat dipercaya, dan bersikap membantu.
Ego involvement adalah situasi yang melibatkan kepentingan individu yang akan diperiksa, yang perlu dibangkitkan sebelum dilaksanakan pemeriksaan psikologi agar diperoleh kerjasama yang baik.
Motivasi berkaitan dengan dorongan yang sebaik-baiknya pada individu yang diperiksa agar dapat dan bersedia melakukan tes dengan sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan tes tersebut. Untuk pengukuran aspek kognitif dapat diperoleh the highest level of performance, sedangkan pada pengukuran aspek non-kognitif akan diperoleh jawaban yang sesuai dengan keadaan dirinya.

C. Jenis-jenis Tes Psikologi
1. Tes Intelegensi
a. Pengertian Intelegensi
Intelegensi mengandung tiga aspek kemampuan, yaitu:
- Kemampuan untuk memusatkan kepada suatu masalah yang harus dipecahkan. Orang dengan intelegensi tinggi akan cenderung untuk memusatkan pikiran pada penyelesaian satu masalah sebelum beralih ke masalah lain, sedangkan orang dengan intelegensi rendah akan mudah berpindah dari masalah satu ke masalah lain.
- Kemampuan untuk melakukan adaptasi terhadap masalah yang dihadapinya. Orang yang inteligen akan dapat melihat bermacam-macam kemungkinan di dalam memecahkan suatu masalah.
- Kemampuan untuk mengadakan kritik, baik terhadap masalahnya maupun terhadap dirinya sendiri.
b. Alat Ukur Intelegensi
Intelegensi bisa diukur dengan menggunakan beberapa jenis tes intelegensi, antara lain: WAIS, WISC, WPPSI, Tes Binet, SPM, CPM, APM, CFIT, K-ABC, PPVT, KIT, IST, LIPS, dan lain-lain. Alat tes intelegensi juga dibedakan berdasarkan usia testee, bersifat kelompok atau individual.
c. Intelligence Quotient (IQ) Test
Orang seringkali menyamakan arti intelegensi dengan IQ, padahal kedua istilah tersebut mempunyai perbedaan arti yang amat mendasar. IQ merupakan skor yang diperoleh dari sebuah alat tes kecerdasan. Alat tes untuk mengukur intelegensi seseorang disebut dengan IQ Test. Norma umum intelegensi adalah sebagai berikut:
< 80 : lambat belajar
81 – 94 : di bawah rata-rata
95 – 99 : rata-rata bawah
100 – 104 : rata-rata
105 – 118 : rata- rata atas
> 119 : superior (di atas rata-rata)

2. Tes Bakat
Pada dasarnya setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Ada yang pandai di bidang bahasa, namun kurang dalam bidang matematika. Ada yang mampu di bidang musik, namun lemah dalam bidang teknik. Kemampuan yang berbeda-beda ini kurang bisa dijelaskan oleh konsep IQ. Dua orang dengan IQ yang sama (misalnya 100), tapi individu yang satu ternyata lebih mampu dalam bidang sains (Kimia, Matematika, Fisika), sedangkan individu yang lainnya lebih mampu dalam bidang ilmu sosial. Hal inilah yang kemudian lebih dijelaskan dalam konsep bakat.
Bakat merupakan kemampuan-kemampuan khusus individu yang merupakan potensi dan dapat berubah menjadi prestasi melalui latihan-latihan yang dilakukannya. Individu yang dianggap berbakat dalam satu bidang karena prestasinya yang menonjol merupakan hasil interaksi dari faktor bawaan dan belajar.
Tes Bakat dilakukan dengan tujuan yang berkaitan dengan bidang pendidikan dan industri. Dalam bidang pendidikan, dengan mengetahui bakat siswa maka ia dapat diarahkan sesuai dengan bakatnya tersebut agar siswa dapat mencapai prestasi sesuai dengan bakat yang dimilikinya. Hasil tes bakat sangat bermanfaat khususnya pada saat penjurusan, baik di SMA maupun SMK, dan untuk menentukan pilihan fakultas/jurusan yang diinginkan di perguruan tinggi.
Dalam bidang industri, bakat seseorang perlu diketahui apakah ia tepat menduduki jabatan tertentu. Hasil tes bakat bisa membantu suatu perusahaan atau lembaga untuk menempatkan karyawan atau calon karyawan pada posisi yang sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan.
Tes Bakat terdiri dari beberapa jenis, antara lain DAT, GATB, dan FACT. Tes Bakat digunakan untuk mengukur aspek-aspek, antara lain: kemampuan berfikir, bekerja dengan angka, penalaran, visualisasi, kemampuan bahasa, penalaran di bidang mekanik, kecepatan respon, dan sebagainya.

3. Tes Kepribadian
Kepribadian adalah organisasi dinamis dari sistem-sistem psikofisik dalam diri individu yang menentukan penyesuaiannya yang unik terhadap lingkungan. Kata dinamis berarti bahwa kepribadian bisa berubah.
Pengukuran kepribadian bukanlah berarti menerapkan label nilai-nilai moral, melainkan lebih untuk mendeskripsikan perilaku seperti apa adanya. Metode pengukuran kepribadian antara lain melalui observasi, inventori, dan teknik proyektif.
Aspek-aspek yang diukur dalam tes kepribadian antara lain pengendalian diri, kepercayaan diri, hubungan interpersonal, komitmen, optimisme, kemandirian, motivasi berprestasi, daya tahan terhadap stress, dan penyesuaian diri.

4. Tes Minat
Minat menunjukkan keinginan individu untuk melakukan sesuatu secara mendalam. Dalam pandangan psikologi, minat dan bakat berkorelasi positif, namun skor yang tinggi pada bakat belum tentu menghasilkan skor yang tinggi pula pada minat. Misalnya, seseorang dengan bakat yang tinggi dalam satu bidang belum tentu memiliki minat untuk menekuni bidang tersebut, dan sebaliknya, individu yang menunjukkan minat tinggi pada musik, misalnya, belum tentu memiliki bakat yang cukup pada bidang tersebut. Pengukuran kedua jenis variabel ini (minat dan bakat) akan menghasilkan prediksi yang lebih efektif bagi suatu kinerja, daripaa hanya mengetahui salah satunya saja.
Tes minat banyak digunakan untuk keperluan seleksi di dunia kerja, dan juga untuk pemilihan jurusan di bidang pendidikan, baik di SMA, SMK, maupun perguruan tinggi. Tes minat dilakukan untuk memperkirakan minat individu dalam berbagai bidang pekerjaan, antara lain: outdoor, mekanik, komputasi, keilmiahan, persuasi, artistik, kesastraan, musik, klerikal, pelayanan sosial.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat tes psikologi
1. Istirahat yang cukup
2. Lepaskan masalah atau beban pikiran yang ada
3. Makan secukupnya
4. Konsentrasi
5. Ikuti instruksi yang diberikan oleh tester

Definisi
Tes Psikologi atau lebih dikenal sebagai Psikotes adalah tes untuk mengukur aspek individu secara psikis. Tes dapat berbentuk tertulis, visual, atau evaluasi secara verbal yang teradministrasi untuk mengukur fungsi kognitif dan emosional. Tes dapat diaplikasikan kepada anak-anak maupun dewasa.



Tujuan
Tes Psikologi digunakan untuk mengukur berbagai kemungkinan atas bermacam kemampuan secara mental dan apa-apa yang mendukungnya, termasuk prestasi dan kemampuan, kepribadian, intelegensi, atau bahkan fungsi neurologis.



Aplikasi
Tes Psikologi dapat dilakukan pada bermacam setting termasuk rekrutmen dalam perusahaan, mengetahui minat dan bakat anak / siswa, tujuan klinis, perkembangan anak, atau kustomisasi design dan modul dalam pelatihan / training


1. Keperluan Industri
Diaplikasikan dalam perekrutan karyawan, eskalasi dan mutasi karyawan, atau sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Apapun jenis usaha anda, pemeriksaan psikologis dapat dilakukan secara kelompok (klasikal) atau individual.


2. Keperluan Pendidikan
Jasa pemeriksaan psikologis juga meliputi Pengukuran, Bimbingan konseling, dan Pelatihan untuk pendidikan. Dari mulai Playgroup, TK, SD, SMP, dan SMU. Arah pemeriksaan dapat ditujukan untuk mengukur intelegensi (IQ), arah minat dan bakat, keajegan belajar, konsentrasi, kematangan emosional, interaksi sosial, kepercayaan diri, dan lain sebagainya.


3. Keperluan Management Training
Tes psikologi juga dapat dilakukan untuk memetakan kebutuhan secara organisasi atau individu dalam pelatihan manajemen. Biasanya diaplikasikan kedalam bentuk Outbound Management Training atau In Class Training. Sifat pelatihan ini terukur, karena menyertakan psikotes dalam pre-test dan post-test. Tujuan pelatihan ini bersifat team building dan organisasi untuk peningkatan skill leadership, communication skills, planning, change management, delegation, teamwork, dan motivation, atau apa saja sesuai kebutuhan.
Kelebihan pelatihan ini, seluruh aspek perilaku dan kebutuhan akan diungkap melalui psikotes, dan modul design akan diterapkan sesuai dengan kebutuhan yang muncul dari hasil psikotes tersebut.



syarat-syarat yang biasa gunakan dalam tes psikologi
Written by FITRI YANI TAMTOMO on December 12, 2009 – 4:22 pm
Syarat-Syarat yang biasa di lakukan untuk melakukan Tes Psikologi
1.Pembakuan (standarisasi)
1.Pelaksanaan dan penskoran adalah sama pada setiap saat digunakan. Dan ini berarti ada norma-norma yang tersedia. Seharusnya seperangkat petunjuk pelaksanaan dan seharusnya diikuti dengan tepat pada setiap kali tes dilaksanakan. Lingkungan fisik, material, dan perlengkapan harusnya tetap sama. Pensekoran harusnya tes harusnya menggunakan seperangkat jawaban yang telah ditetapkan sebelumnya.
2.Melibatkan penetapan norma-norma untuk memberi arti terhadap suatu skor dalam kaitanya dengan beberapa referensi pokok. Tujuanya adalah agar setiap testi mendapat perlakuan yang sama.
1.Keobjektifan
Yang berarti bahwa pensekoran adalah bebas dari kesubjektifan opini pemberi skor. Pada suatu tes objektif , pengambilan tes seharusnya memperoleh skor yang sama dari pemberi skor yang berbeda. Dengan tujuan agar bias, opini, sikap-sikap, dll tidak mempengaruhi hasilnya. Tipe tes objektif paling lazim adalah berisi pertanyaan multiple choise. Lainya adalah true or false.
1.Reabilitas
Memberi hasil yang sama pada percobaan yang dilakukan berulang-ulang. Conny Semiawan mengunkapkan bahwa pengertian reabilitas menunjuk pada ketetapan (konsistensi) dari nilai-nilai yang diperoleh sekelompok individu dalam kesempatan yang berbeda dengan tesyang sama atau ekuivalen. Hal ini didasari dari kesalahan ukuran yang mungkin terjadi pada nilai tunggal tertentu, sehingga susunan (urutan) dari kelompok tersebut berubah. Suatu tes yang reliable akan menghasilkan suatu hasil yang konsisten dengan percobaan yang telah dilakukan secara berulang-ulang atau dalam kesempatan yang berbeda dengan tes yang sama maupun item yang ekuivalen.
Ada 4 cara pokok dalam menentukan reabilitas tes, yaitu:
1.Test-Retest
Mengulang tes yang sama dalam kesempatan berikutnya. Tes yang memiliki reabilitas untuk beberapa bulan belum tentu memiliki reabilitas untuk bebrapa tahun. berikut hal yang perlu diingat pada retest;
Bila jangka waktu antar tes sering dilakukan latihan maka hasil tes berikutnya dapat menjadi lebih baik. Terutama jika tes dapat dilakukan dalam jangka waktu pendek, testi mungkin masih mengingatnya. Sehingga tes tersebut dapat saling bergantung, dan korelasi nilai akan amat tinggi.
Tes akan berubah dengan sendirinya pada saat pengulangan. Biasanya terjadi pada soal yang perlu pemahaman. Bila mudah dipahami maka tak sukar untuk memperoleh jawaban.
2.Ekuivalen (pararel)
Dua konselor menguji masing-masing tes dan menganggap bahwa tersebut seimbang. Masing-masing berisi proporsi item yang sama dengan tingkat kesukaran yang sama. jika skor sama pada kedua tes, dapat dikatakan korelasi akan tinggi. Koefesien reabilitas akan menjadi suatu koefesien ekuivalensi dimana taraf kedua bentuk tes yang sama adalah setara.
1.Split-Half
Membagi salah satu tes menjadi dua bagian yang sama, masing-masing memiliki jumlah item yang sama, setiap tes memiliki proporsi item yang sama, tingkat kesulitan yang sama, dan daya beda yang sama. Kita dapat memberi tes bagian I pada hari pertama dan tes II pada saat tes berikutnya.
1.Kuder-Richardson
metode ini menggunakan penghitungan statistik pada setiap item dan hasil-hasil koefesien.
1.Validitas
Kualitas terpenting dalam suatu tes. Validitas berarti mengukur apa yang seharusnya diukur. Merujuk pada pengertian apakah hasil tes sesuai dengan yang dirumuskan dan telah sampai mana tes itu telah mengukurnya.
Tiga kategori validitas tes yaitu:
1.Validitas konten/ Face Validity/ Sampling validity/ Factorial validity
Bertujuan untuk menguji sifat-sifat atau isi tes. Bentuk tes ini mengukur sampai dimana seseorang menguasai suatu kemampuan khususnya setelah memperoleh pelajaran tertentu. Validitas konten bertujuan untuk menganalisadan memahami proses psikologis yang mempengaruhi terwujudnya prestasi itu.
1.Validitas kriterion
Suatu relasi berada diantara hasil-hasil tes dan beberapa perilaku lainnya yang dikenal dengan kriterion. Suatu kriterion yang dikehendaki terjadi dalam lapangan konseling karir adalah job performance. Skor tes calon dikorelasikan dengan suatu ukuran job performance. Ada 2 cara pokok yang bisa dilakukan;
Prediktif = Ini digunakan apabila pertama mengumpulkan data tes, dan berikutnya dikumpulkan data (dalam kelompok yang sama) kriterion(job performance). Korelasi antara kedua kumpulan data ini adalah suatu ukuran validitas prediktif. jika penilaian validitas adalah baik, maka hasil-hasil tes ini dapat digunakan untuk memprediksi kriterion job performance. Dan tes itu memiliki validitas prediktif.
Konkurensi = jika data tes dan data kriterion dikumpulkan pada saat yang sama, dan hasilnya dikorelasikan maka kita telah menetapkan validitas konkurensi tes. Validitas suatu tes ditera dengan tolok ukur tes yang lain. Jika tolok ukurnya sama maka disebut “congruent validity”. Jika tolok ukurnya beda disebut “concurrent validity”. “Criterion” yang digunakan untuk memvalidasi tes yang dicoba harus valid dan reliable. Tipe validitas ini paling lazim digunakan daripada yang validitas prediktif.
1.Validitas konstruk
Validasinya dilakukan dengan mengkumulasikan traits yang diukur oleh tes yang bersangkutan (Soe Biono 1983). Ada langkah yang kompleks untuk menilai traits semacam itu melalui metode validasi konstruk. Tema yang paling sering adalah mempertimbangkan motivasi yang diberikan kepada individu. Kemudian dihubungkan dengan keberhasilan dalam bidang lain. Validitas konstruk tes untuk membantu memprediksi keberhasilan tahap lanjutan.

Pemeriksaan psikologik (istilah populernya: psiko-tes) adalah upaya profesional (oleh psikolog) untuk mengetahui kondisi kejiwaan seseorang.
Yang dimaksud dengan kondisi kejiwaan (kondisi psikologik) meliputi:
Taraf kecerdasan: umum (yang popular dengan istilah IQ) dan khusus (kemampuan numerik, daya analisis, sintesis, kemampuan verbal dsb.)
Sikap kerja: khususnya dalam rangka pemeriksaan psikologik di perusahaan (kecepatan, ketelitian, ketekunan dsb.)
Faktor-faktor kepribadian lainnya (stabilitas emosi/EQ, penyesuaian diri, minat, dsb.)
Tujuan pemeriksaan psikologik:
Dalam perusahaan: seleksi/rekrutmen, placement, mutasi, promosi dsb.
Pemilihan jurusan/bidang kerja yang sesuai (populer: tes bakat)
Konseling (penasihatan) keluarga: hubungan suami-isteri, orangtua-anak dsb.
Konseling pendidikan: peningkatan motivasi belajar, pengajaran remedial dsb.
Konseling masalah-masalah psikologik lainnya: penyalahgunaan seks, penyalahgunaan narkoba, pasca trauma kerusuhan, trauma bencana alam dsb.
Metode pemeriksaan psikologik:
Wawancara dan observasi: metode paling dasar dan utama
Daftar riwayat hidup
Tes psikologi: digunakan serangkaian tes (test battery) untuk saling counter check.
Dasar teori tes psikologi: keadaan jiwa/psikologi seseorang dapat diperiksa/diukur dari perilakunya yang kasat mata (overt), karena perilaku adalah ekspresi/manifestasi jiwa.
Jenis-jenis tes psikologi:
Tes prestatif (populer: tes IQ): terdiri dari serangkaian persoalan yang sudah teruji validitas (kesahihan) dan reliabilitas (kehandalan)-nya untuk mengukur kemampuan umum maupun khusus seseorang.
Tes proyektif (tes gambar, tes ceritera, melengkapi kalimat dsb.): dasarnya adalah teori proyeksi (Psikoanalisis) yang menyatakan bahwa kondisi kejiwaan seseorang dapat diproyeksikan kepada rangsang (stimulus) di luar.
Tes inventori (formulir pertanyaan): dasarnya adalah anggapan bahwa yang paling tahu tentang kepribadian seseorang adalah orang itu sendiri. Karena itu dibuat serangkaian pertanyaan (biasanya dengan system multiple choice) untuk mengukur sikap, sifat, minat dsb.
Pemeriksaan psikologik dalam Perusahaan
Untuk membantu pimpinan/manajemen dalam rangka optimalisasi SDM melalui asas the right man in the right place.
Sebelum dilaksanakan, perlu kesepakatan antara pihak user (manajemen) dengan tim psikolog agar ada kesamaan persepsi tentang aspek-aspek psikologik yang akan diukur.
Tahap-tahap pemeriksaan psikologik di perusahaan:
Pembicaraan antara user dan tim psikolog untuk menetapkan:
tujuan pemeriksaan psikologik
aspek-aspek psikologik yang akan diperiksa
definisi operasional dari tiap-tiap aspek tsb.

Penyusunan tes batere untuk tim psikolog untuk memenuhi tujuan
Persiapan oleh tim psikolog (briefing kepada seluruh anggota tim, menyiapkan materi tes dsb.)
Pelaksanaan:
Tes massal
Wawancara individual
Pengolahan data (koreksi, pembuatan norma kelompok dsb.)
Penulisan laporan oleh psikolog
Second opinion dari psikolog lain
Penulisan laporan final.
Penyerahan laporan kepada user (normal: 14 hari kerja setelah tanggal pelaksaan)
Tindak lanjut: pembahasan dengan user, konseling dengan karyawan ybs., konseling keluarga dsb (tergantung pada tujuan awal dari pemeriksaan psikologik).
Ketidaksesuaian antara saran psikolog dengan penilaian user: biasanya disebabkan oleh ketidak-sesuaian persepsi antara user dengan tim psikolog tentang aspek-aspek (termasuk definisi operasionalnya). Kemungkinan penyebab lain:
Tim psikolog kurang mengikuti prosedur baku
Ada faktor-faktor non-teknis (KKN, intervensi Direksi, peserta sakit dsb.)

2 komentar:

  1. mifta (lampung)27 Februari 2011 21.17

    saya lagi bikin KTI nih,,,
    hmm..mengukur tingkat stres gmn ya?
    tong bantuannya,,
    contoh kuesioner n literatur yg kuat.

    BalasHapus
  2. Membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI) dalam bentuk apa??? Skripsi atau ...........????

    Untuk Mengukur tingkat Stres,,, anda harus menentukan gejala-gejala stres,,, banyak literatur yang menjelaskan gejala-gejala stres,,, nah dari gejala stres tersebut dapat dijadikan indikator sehingga anda dapat membuat sekalanya,,,,,

    BalasHapus