Produktivitas Kerja

Pengertian Produktivitas Kerja
Manusia akan menghasilkan sesuatu dengan melakukan kegiatan yang disebut bekerja, yang dalam masyarakat modern sebagain hasil itu berupa uang atau dapat dinilai dengan uang dan sebagaian lagi tidak dinilai dengan uang. Kenyataan itu mengandung makna bahwa manusia makhluk produktif. Produktivitas makhluk yang berpredikat manusia itu bahkan tidak saja berupa sesuatu yang bermanfaat bagi kesejahteraan hidupnya. Sejarah telah membuktikan bahwa sedemikian produktifnya manusia dan telah banyak dihasilkan sesuatu yang dapat membuat kehidupannya menderita bahkan dapat pula menghacurkan kehidupannya sendiri.
Sumber-sumber ekonomi yang digerakkan secara efektif memerlukan keterampilan organisatoris dan teknis sehingga mempunyai tingkat hasil guna tinggi. Artinya, hasil yang diperoleh seimbang dengan masukan yang diolah. Melalui berbagai perbaikan cara kerja sehingga pemborosan waktu, tenaga dan berbagai input lainnya akan berkurang. Hasilnya tentu akan lebih baik dan banyak hal yang bisa dihemat yang jelas waktu tidak terbuang sia-sia, tenaga dikerahkan secara efektif pada tujuan usaha bisa terselenggara dengan baik, efektif dan efisien. Hal inilah yang dimaksud dengan produktivitas (Sinungan, 2003).
Fenomena produktivitas di lingkungan kerja merupakan suatu proses yang memerlukan pemahaman yang sifatnya holistic dan multi-dimensional. Upaya untuk memahami hal ini, memerlukan pendekatan yang mampu mengaitkan antara perilaku anggota organisasi dengan lingkunan internal dan lingkungan eksternal organisasi (ki_ismara@yahoo.com).
Produktivitas kerja memerlukan keterampilan yang sesuai dengan isi kerja sehingga bisa menimbulkan penemuan-penemuan baru untuk memperbaiki cara kerja atau minimal mempertahankan cara kerja yang sudah baik, ditandai dengan usaha mencari terobosan dan pembaharuan. Ketika suatu produk baru telah ditemukan dan berguna bagi orang lain, mereka akan terus mengeksplorasinya sehingga didapatkan produk inovatif baru atau bahkan produk turunannya (Suryadi, 2005).
Produktivitas berasal dari bahasa Inggris product: result, outcome berkembang menjadi kata productive yang berarti menghasilkan dan Productivity: having the ability to make or create; creative. Perkataan ini digunakan dalam bahasa Indonesia menjadi produktivitas yang berarti kekuatan atau kemampuan menghasilkan sesuatu sedangkan produktivitas kerja adalah perbandingan terbaik antara hasil yang diperoleh (output) dengan jumlah sumber kerja yang dipergunakan (input). Produktivitas kerja dikatakan tinggi jika hasil yang diperoleh lebih besar dari sumber kerja yang dipergunakan (Nawawi dan Hadari, 1990).
Produktivitas ini digambarkan dari kecepatan penggunaan metode atau cara kerja dan alat yang tersedia, sehingga volume dan beban kerja dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang tersedia. Hasil yang diperoleh bersifat nonmaterial yang tidak dapat dinilai dengan uang, hanya dapat digambarkan dari efisiensi pegawai dalam melaksanakan tugas-tugas pokoknya. 
Moelyono (2004), memaparkan bahwa konsep produktivitas kerja masih mempunyai cakupan berbagai ide serta memerlukan analisis structural yang komprehensif. Konsep produktivitas menekankan pentingnya efeisiensi dan efektivitas dalam setiap usaha, hendaknya dapat dimuarakan bagi kepentingan manusia dalam proses harmonisasi peradaban budayanya.
Menurut Mc. Clelland (Asnawi, 2002), produktivitas kerja sesorang sangat ditentukan oleh “virus mental” yang ada pada dirinya. Virus mental ini merupakan keadaan jiwa yang dapat mendorong untuk mencapai prestasi maksimal. Virus mental ini mencakup need of achievement (kecenderungan untuk berprestasi), need of affiliation (kecenderungan untuk memperluas pergaulan) dan need of power (kecenderungan untuk menguasai).
Berdasarkan teori diatas virus mental pegawai sangat penting dibina dengan mengembangkan potensi pegawai melalui lingkungan keja yang efektif, untuk mewujudkan produktivitas yang berkualitas tinggi dan mencapai tujuan utama perusahaan atau organisasi.
Suprihanto (Haryani, 2002), menjelaskan bahwa produktivitas kerja yaitu kemampuan untuk menghasilkan barang dan jasa untuk meningkatkan keuntungan dan daya saing di era golabalisasi yang kompetitif dan menuntut adanya profesionalisme kerja dalam konteks manajemen produktivitas kerja dikenal sebagai kinerja (performance), sehingga produktivitas kerja dirumuskan seperti pada gambar 1.1 di bawah ini:


Produktivitas kerja =   Output

                                       Input

Input

 


“Output yaitu berupa barang dan jasa sedangkan input adalah tenaga kerja atau bahan baku yang digunakan”.
Gambar 1.1 Rumus Produktivitas Kerja

Pentingnya arti produktivitas terutama  pada pekerjaan dalam meningkatkan kesejahteraan nasional telah disadari secara universal. Aktifitas manusia akan mendapatkan keuntungan dari produktivitas yang ditingkatkan sebagai kekuatan untuk menghasilkan lebih banyak barang ataupun jasa.
Meningkatkan produktivitas kerja juga tergantung pada pemilihan bahan-bahan maupun daya guna secara optimal. Setiap material mempunyai harga dan kualitas tersendiri dengan pemilihan yang tepat akan mempengaruhi produktivitas. Program peningkatan produktivitas yang berhasil itu ditandai dengan adanya andil yang luas dari keuangan dan tunjangan-tunjangan lain diseluruh organisasi (Sinungan, 2003).
Produktivitas tenaga kerja merupakan masalah yang sangat penting untuk dibahas. Meskipun belum merupakan kepastian mutlak, telah nampak tanda-tanda bahwa produktivitas tenaga kerja di Indonesia belum memadai. Misalnya, orientasi kehidupan yang lebih afiliatif juga tercermin dalam pekerjaan sehingga hubungan profesional dalam pekerjaan tidak terlaksana secara maksimal.
Danadjaja (Anoraga, 2005), menyatakan bahwa produktivitas sebagai tenaga kerja sebenarnya hanya sebagaian dari seluruh produktivitas suatu usaha. Namun demikian, produktivitas tenaga kerja adalah bagian paling menetukan sekaligus juga paling sulit untuk dimengerti, apalagi untuk dikelola.
Arti sebenarnya dari produktivitas adalah menghasilkan lebih banyak dan berkualitas dengan usaha yang sama sehingga produktivitas kerja adalah efisiensi proses menghasilkan dari sumber daya yang dipergunakan. Produktivitas bukanlah membuat pegawai bekerja lebih lama atau lebih keras. Peningkatan produktivitas lebih banyak merupakan hasil dari perencanaan yang tepat, investasi yang bijaksana, teknologi baru, teknik yang lebih baik, efisiensi lebih tinggi, pelaksanaan manajemen yang lebih baik, kesadaran para pegawai serta kesediaan untuk bekerja secara memadai untuk gaji yang memadai (Anoraga, 2005).
Produktivitas kerja sangat berhubungan dengan kreativitas, keberhasilan meningkatkan produktivitas kerja merupakan keterampilan yang ditunjang oleh suasana kerja dengan adanya penghargaan berupa pemberian insentif atau upah serta memberikan latihan peningkatan kreativitas (Evans, 1994).
Litwin dan Feather (As’ad, 2000), menjelaskan bahwa individu yang mempunyai produktivitas kerja tinggi, cenderung menetapkan tingkat aspirasinya secara lebih realistik. Keberhasilan mereka disebabkan karena pada dirinya mempunyai kebutuhan berprestasi yang tinggi, karena dengan kebutuhan untuk berprestasi ini memungkinkan munculnya inisiatif. Seringkali cara-cara yang ditempuh pihak manajemen untuk meningkatkan produktivitas dengan cara menaikkan gaji atau upah kerja karena gaji merupakan faktor utama meningkatkan produktivitas dan kepuasan kerja.
Aspek mendasar dalam meningkatkan produktivitas pegawai yaitu penerapan modifikasi perilaku pada suatu lingkungan kerja yang harus menuhi tiga tahapan sebagaimana dipaparkan oleh Anoraga (2005), yaitu:
a.       Pengukuran pada setiap unit kerja yang menghasilkan keuntungan ekonomis tinggi, karenanya peningkatan produktivitas kerja personel merupakan suatu keharusan. Pengukuran itu menyediakan landasan dasar untuk menghadapi prestasi masa depan. Dalam berbagai kasus, manajemen gagal menunjukkan bidang-bidang yang memiliki imbalan ekonomis untuk perbaikan pretasi pegawai.
b.      Pengadaan suatu system umpan balik yang efektif sehingga baik pimpinan maupun pegawai mengetahui secara pasti apa yang kiranya perlu dikerjakan dan apa pula yang sedang dikerjakannya.
c.       Pemberian peneguhan positif (positive reinforcement) apabila terjadi perbaikan prestasi karyawan.
Casio dan Mill (Moelyono, 2004), mengembangkan konsep produktivitas kerja dengan memasukkan unsur efisiensi. Mereka berpandangan bahwa suatu organisasi yang dapat bekerja secara efisien berarti organisasi tersebut telah mengembangkan produktivitas kerja pegawainya.
Produktivitas kerja hanya dapat diperoleh gambarannya dari dedikasi, loyalitas, kesungguhan, disiplin, ketepatan penggunaan metode atau cara kerja. Oleh karena itu, dapat dindentifikasikan tiga gejala yang menggambarkan tingkat produktivitas sebagai berikut :
a.       Produktivitas internal
Produktivitas internal adalah tingkat pencapaian target mengenai sesuatu yang herus dihasilkan sebagai keluaran (output) yang direncanakan selama jangka waktu tertentu.
b.      Produktivitas eksternal
Produktivitas eksternal adalah tingkat pendayagunaan atau kemanfaatan hasil yang dicapai suatu organisasi kerja oleh masyarakat, khususnya di lingkungan lapangan kerja atau kelompok masyarakat yang memerlukannya. Dengan kata lain produktivitas diukur dari segi berguna atau tidak hasil yang dicapai di masyarakat (Nawawi dan Hadari, 1990).

2.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja

Manusia yang bekerja pada suatu organisasi kerja, kedudukannya sebagai tenaga kerja tetap harus diperlakukan, dikendalikan dan dilayani secara manusiawi. Dengan demikian setiap tenaga kerja akan merasakan dirinya sebagai subyek, agar secara wajar bersedia mencurahkan segenap kemampuannya dalam mewujudkan produktivitas kerja yang tinggi. Perlakuan sebagai subyek akan meningkatkan harga diri dan karenanya akan berpengaruh besar terhadap moral dan semangat kerja masing-masing (Schneider, 1975).
Berdasarkan penjelasan Moelyono (2004), upaya peningkatan produktivitas kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
a.       Pelatihan
Kegiatan latihan dan pengembangan tidak saja bermanfaat bagi pegawai baru, melainkan juga terhadap pegawai yang sudah lama bekerja. Hal ini dapat meningkatkan prestasi kerja yang pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas dan keuntungan. Peningkatan prestasi kerja dan produktivitas yang disebabkan program ini paling terbukti pada pegawai baru yang belum sepenuhnya menyadari akan cara-cara yang paling efisien dan efektif dalam pelaksanaan kerjanya.
b.      Komunikasi
Komunikasi yang efektif antar pegawai menyebabkan koordinasi tiap bagian akan membaik sehingga hambatan dalam peningkatan produktivitas akan semakin berkurang. Komunikasi yang terbangun dikalangan pegawai akan membuka benteng-benteng birokrasi yang selama ini membuat sumber daya manusia (pegawai) terkotak-kotak sehingga mengalami kesulitan untuk berpartisispasi dalam pengambilan keputusan, sehingga tingkat kepercayaan antar elemen dalam organisasi kerja semakin tinggi.    
c.       Mutu kerja
Peningkatan mutu kerja pegawai dilakukan dengan jalan menggali dan mengembangkan mutu pegawai serta menciptakan suasana kerja secara kekeluargaan yang harmonis.
d.      Tanggung jawab
Peningkatan tanggung jawab pegawai yaitu melalui pemberian kesempatan untuk berkembang, berinovasi dan berkreasi sehingga volume ataupun beban kerja dilaksanakan tanpa keterpaksaan yang berefek pada rasa memiliki yang tinggi pada organisasi tempat pegawai atau personel tersebut bekerja. 
Anoraga (2005) menjelaskan sepuluh faktor-faktor untuk meningkatkan produktivitas kerja, yaitu sebagai berikut :
a.       Pekerjaan yang menarik
Biasanya apabila seseorang mengerjakan suatu pekerjaan dengan senang atau menarik bagi dirinya, maka hasil pekerjaannya akan lebih memuaskan dari pada ia mengerjakan pekerjaan yang ia tidak senangi.
b.      Upah yang baik
Pada dasarnya seseorang yang bekerja, mengharapkan imbalan yang sesuai dengan jenis pekerjaannya karenya adanya upah yang sesuai dengan pekerjaannya, maka kan timbul pula rasa gairah kerja yang semakin baik.
c.       Keamanan dan perlindungan dalam pekerjaan
Terpenuhinya jaminan atas pekerjaan, maka dalam bekerja tidak ada lagi perasaan khawatir atau ragu-ragu dari pegawai.
d.      Penghayatan atas maksud dan makna pekerjaan
Penghayatan atas maksud dan makna pekerjaan apabila seseorang pekerja telah mengetahui kegunaan dari pekerjaannya bagi masyarakat dan juga telah mengetahui betapa sangat penting pekerjaannya, maka dalam mengerjakan pekerjaan pekerja akan lebih meningkatkan produktivitas kerja.


e.       Lingkungan atau suasana kerja yang baik
Lingkungan kerja yang baik akan membawa pengaruh yang baik pula pada segala pihak, baik pada para pekerja, pimpinan ataupun pada hasil pekerjaannya.
f.       Promosi dan perkembangan diri mereka sejalan dengan perkembangan perusahaan
Seorang pekerja akan merasa bangga bila pekerjaannya mengalami kemajuan pesat, apalagi sampai terkenal di mata masyarakat. Hal ini akan mengangkat derajat kebanggaan pada diri pekerja akan pekerjaannya.
g.      Merasa terlibat dalam kegiatan-kegiatan organisasi
Keterlibatan dalam organisasi menyebabkan pekerja merasa bahwa dirinya sangat dibutuhkan dan rasa memiliki pun meningkat.
h.      Pengertian dan simpati atas persoalan-persoalan pribadi
Seorang pemimpin yang bijaksana akan memperhatikan bawahannya sampai pada urusan pribadinya. Dengan demikian para pekerja akan merasakan  bahwa dirinya diberi perhatian besar oleh pimpinannya.
i.        Kesetiaan pimpinan pada pekerja
Kesetiaan pimpinan ini merupakan suatu wibawa organisasi kerja karena bila pimpinan hanya mengobral janji akan melakukan sesuatu, maka hal ini akan menimbulkan perasaan yang tak baik dalam diri pekerja.
j.        Disiplin kerja
Pekerja yang memiliki disiplin kerja yang tinggi akan berpengaruh pada peningkatan produktivitas dalam organisasi tempatnya bekerja.
Hubungan dengan orang-orang di luar organisasi kerja juga memegang peranan yang sangat penting dalam peningkatan produktivitas yaitu dengan bertambahnya relasi melalui hubungan profesional mengakibatkan pegawai meningkatkan motivasi keja sehingga memberi keuntungan pada tempat kerjanya (Feinberg, 1994).
Suryadi (2005), menjelaskan bahwa untuk meningkatkan produktivitas kerja harus dititikberatkan pada upaya menghilangkan stress kerja yang muncul diakibatkan konflik kerja antara pimpinan dengan bawahan ataupun bawahan dengan pimpinan.
Nawawi dan Hadari (1990), mengatakan bahwa manusia sebagai tenaga kerja agar produktif harus mampu mendayagunakan lima sumber kerja, baik yang terdapat pada dirinya maupun lingkungan sekitarnya. Kelima sumber kerja dimaksud adalah :
a.       Penggunaan pikiran
b.      Penggunaan tenaga jasamani/fisik
c.       Penggunaan waktu
d.      Penggunaan ruangan
e.       Penggunaan material/bahan dan uang
Organisasi kerja mutlak melakukan peningkatan produktivitas kerja para tenaga kerja/pegawai yang didapatkan melalui pengaplikasian komunikasi efektif  kepada para pegawainya agar program kerja yang dicanangkan berhasil dilaksanakan sesuai terget (Supriyadi dan Guno, 2003).

3.      Aspek-aspek Produktivitas Kerja

Produktivitas kerja lebih ditekankan pada ukuran daya guna dalam melaksanakan pekerjaan. Oleh karena itu, daya guna dalam bekerja yang berarti produktivitas kerja, yang mengandung aspek-aspek sebagaimana dijelaskan oleh Sutesmeister (Riduan, 2002), yaitu:
a.       Budaya Kerja
Budaya kerja mempunyai makna yang sangat dalam, budaya kerja tercermin dari sikap menjadi perilaku karena akan merubah sikap dan perilaku sumber daya manusia untuk mencapai produktivitas kerja yang lebih tinggi dalam menghadapi tantangan masa depan. Budaya kerja dapat dibagi menjadi:
1)      Sikap terhadap pekerjaan, yakni kesukaan akan kerja dibandingkan dengan kegiatan lain, seperti bersantai atau semata-mata memperoleh kepuasan dari kesibukan pekerjaannya sendiri, atau merasa terpaksa melakukan sesuatu untuk kelangsungan hidupnya. Sikap terhadap pekerjaan ditunjukkan dengan kesediaan lebih besar untuk berusaha agar apa yang dikerjakan berhasil dan untuk bertanggung jawab terhadap apa ditugaskan kepadanya.
2)      Perilaku pada waktu bekerja, seperti rajin, berdedikasi, berhati-hati, teliti, cermat, kemauan yang kuat untuk mempelajari tugas dan kewajibannya, senang menolong pegawai yang lain.
b.       Penampilan kerja (job performance)
Penampilan kerja merupakan kualitas seorang pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya, sehingga akan menghasilkan barang maupun jasa yang akan memberi manfaat lebih besar pada instansi tempatnya bekerja. Penampilan kerja dibagi menjadi:
1)      Motivasi kerja, Orang yang bekerja dengan motivasi yang lebih tinggi akan menghasilkan produktivitas yang tinggi. Motivasi kerja dipengaruhi oleh kebutuhan individu dalam bentuk fisiologis, sosial, latar belakang budaya serta kondisi fisik tempat kerja berupa cahaya, temperatur, ventilasi, waktu istirahat, keselamatan dan kesehatan kerja, musik dan tata ruang.
2)      Kemampuan pegawai dalam melaksanakan pekerjaan, yang dipengaruhi oleh pengetahuan berupa latihan, pengalaman kerja, pendidikan serta keterampilan (skill) pegawai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar