Contoh Kasus


Nama : Nur Aeni Latifah
Nim    : 45 07 091 008

CONTOH KASUS GANGGUAN

NAMA               : RINA
PEKERJAAN    : SISWA SMP
UMUR               :12 TAHUN

1.  LATAR BELAKANG MASALAH
Rina kelihatannya pintar dan selalu ingin melakukan yang terbaik. Rina menyukai hal yang berhubungan dengan seni dan pandai melukis. Tetapi ia sangat berbeda ketika diminta untuk mengerjakan soal-soal di depan kelas. Ia sering mengeluhkan beberapa kata yang menurut dia tidak ada maknanya. Ketakutan terhadap kemampuan membacanya menimbulkan masalah di sekolahnya, juga dengan temannya. Ia kadang merasa marah akan sesuatu dan sulit menenangkan diri, ia tampak khawatir  terhadap segala hal, selalu cemas akan bencana yang akan menimpah dirinya ketika ia berinteraksi dengan orang lain terutama teman-teman di sekolahnya. Jika ia gagal menciptakan sesuatu seperti yang ia harapkan, ia akan marah dan memukul ke segala arah dan membentur-benturkan kepalanya di tembok. Di rumah, keluarga Rina sering melihat tingkah lakunya yang selalu menunjukkan kecemasan dan kekhawatiran mengenai suatu hal yg mengganggu tidurnya, ia selalu gelisah dan menyebabkannya jatuh sakit. Kecemasannya itu  membuat dia selalu menolak membaca buku pelajaran dan selalu merasa takut untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain karena tahu tidak terlalu banyak kata yang dikuasainya.

2.  CIRI-CIRI GANGGUAN GAD
·         Tidak mampu membaca
·         Tidak mampu memaknai kata
·         Tidak mampu berinteraksi dengan orang lain secara baik
·         Sering marah
·         Sulit menenangkan diri
·         Emosional agresif
·         Gangguan tidur
·         Sering sakit
·         Sering khawatir
·         Menolak membaca buku
·         Mengeluhkan kata yang dibaca ynag menurutnya maknanya sangat sulit
·         Sulit menenangkan diri
·         Memukul kesegala arah dan membenturkan kepalanya ke tembok

3.  PENJELASAN GANGGUAN
            Individu yang menderita gangguan anxietas menyeluruh (GAD) ditandai oleh perasaan cemas, sering kali dengan hal-hal kecil. Ciri utama GAD adalah rasa cemas. Orang dengan GAD adalah pencemasan yang kronis. Mungkin mereka mencemaskan secara berlebihan keadaan hidup mereka, seperti keuangan, kesejahteraan anak-anak, dan hubungan sosial mereka. Menurut suatu study, 9 dari 10 orang dengan GAD melaporkan kecemasan yang berlebihan bahkan mengenai hal-hal kecil(Sanderson & Barlow, 1990). Anak-anak dengan gangguan ini mencemaskan prestasi akademik, atletik, dan aspek sosial lain dari kehidupan sekolah. Ciri lain yang terkait adalah: merasa tegang, waswas, atau khawatir, mudah lelah, mempunyai kesulitan berkonsentrasi atau menemukan bahwa pikirannya menjadi kosong, iribilitas, ketegangan otot, dan adanya gangguan tidur, seperti sulit untuk tidur, dan tidur yang gelisah dan tidak memuaskan
GAD cenderung merupakan suatu gangguan yang stabil, muncul pada pertengahan remaja sampai pertengahan umur 20-an tahun dan kemudian berlangsung sepanjang hidup. Gangguan ini muncul dua kali lebih banyak pada perempuan dibandingkan pada laki-laki(APA, 2000;USDHHS, 1999a)
Meskipun GAD secara tipikal kurang intens dalam respons fisiologisnya dibandingkan dengan gangguan panik, distres emosional yang diasosiasikan dengan GAD cukup parah untuk mengganggu kehidupan orang sehari-hari. GAD sering ada bersama dengan gangguan lain seperti depresi  atau gangguan kecemasan lainnya seperti agorafobia dan obsesif-kompulsif.
Dari kasus diatas, dapat disimpulkan bahwa orang tersebut(Rina) menderita gangguan anxiety menyeluruh. Karena kita dapat menemukan beberapa ciri penyakit dari gangguan anxiety menyeluruh.
4.  CARA MENANGANI
     Terapi yang digunakan untuk Gangguan Anxietas Menyeluruh
·         Pendekatan Psikoanalisis, karena memandang gangguan anxietas menyeluruh berakar dari konflik-konflik yang ditekan, sebagian besar psikoanalisis bekerja untuk membantu pasien untuk menghadapi sumber-sumber konflik yang sebenarnya. Penanganannya hampir sama dengan penanganan fobia.
Satu studi tanpa kontrol menggunakan intervensi psikodinamika yang memfokuskan pada konflik interpersonal dalam kehidupan masa lalu dan masa kini pasien dan mendorong cara yang lebih adaptif untuk berhubungan dengan orang lain pada saat ini, sama dengan para terapi behavioral mendorong penyelesaian masalah sosial.
·         Pendekatan Behavioral, para ahli klinis behavioral menangani kecemasan menyeluruh dengan berbagai cara. Jika terapis menganggap kecemasan  sebagai serangkaian respons terhadap berbagai situasi yang diidentifikasi, apa yang tampak sebagai kecemasan yang bebas mengalir dapat diformulasi ulang pada satu fobia atau lebih atau kecemasan berisyarat. Sebagai contoh, seorang terapis behavioral dapat menyimpulkan bahwa klien yang mengalami kecemasan menyeluruh tampaknya lebih spesifik memiliki ketakutan untuk mengkritik dan dikritik orang lain. Terapis perilaku harus memformulsi ulang apa yang awalnya tampak sebagai GAD menjadi semacam fobia.
Walaupun demikian, dapat terjadi kesulitan untuk menemukan penyebab spesifik kecemasan yang diderita pasien semacam itu. Kesulitan ini memicu para ahli klinis behavioral untuk memberikan penanganan yang lebih umum, seperti training relaksasi intensif, dengan harapan bahwa belajar untuk rileks ketika mulai merasa tegang seiring mereka menjali hidup akan mencegah kecemasan berkembang tanpa kendali. Para pasien diajarkan untuk melemaskan ketegangan tinkat rendah, merespon kecemasan yang baru muncul dengan relaksasi dari pada dengan kepanikan.
·         Terapis kognitif-behavioral juga memakai kombinasi teknik untuk menangani gangguan kecemasan menyeluruh (GAD). Termasuk dalam teknik-teknik ini adalah pelatihan keterampilan self-relaxation; belajar untuk mengganti pikiran-pikiran intrusif dan mencemaskan dengan pikiran - pikiran yang adaptif; belajar keterampilan - keterampilan untuk dekatastrofisasi (menghindari kecenderungan untuk berpikir yang buruk). Dalam studi yang terkontrol, pendekatan kognitif-behavioral dalam menangani GAD telah menunjukkan manfaat yang lebih besar dibandingkan kondisi terkontrol lain atau terapi alternatif lain (Barlow, esler & Vitali, 1998; DeRubies & Crits-Cristoph, 1998; Ladouceur dkk, 2000)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar