Istilah dalam Psikologi Konsumen


MULTIPLE SELVES
            Kita memiliki berbagai macam self, hal itu dikarenakan peran-peran sosial yang berbeda. Tergantung situasi, tindakan, perbedaan menggunakan produk, dan ketetapan pada saat mengubah termonologi (terms) dari seberapa banyak aspek yang ada pada diri kita. Setiap orang bisa saja memerukan produk yang berbeda untuk memainkan masing-masing perannya. Seorang wanita bisa saja menginginkan sebuah ketenangan, menggunakan parfum ketika ia menjadi professional self-nya, tetapi sebenarnya percikan sesuatulah (parfum) yang merangsangnya pada malam minggu untuk menjadi self femme fatale-nya.
            Kita bisa berfikir bahwa self  memiliki komponen yang berbeda-beda, atau role identities, dan hanya sedikit yang aktif pada waktu tertentu. Beberapa identitas (suami, boss, pelajar) menjadi inti pada self dari yang lain, tetapi identitas lain (pengumpul perangko, penyokong untuk tunawisma) mungkin lebih dominan dalam situasi yang lebih spesifik. Dengan strategi, tujuan pemasar mungkin membutuhkan langkah-langkah untuk memastikan ketepatan identitas peran yang aktif sebelum satu produk dipasarkan, di butuhkan fakta-fakta untuk memainkan peran tersebut. Kenyataannya bisa saja terdapat pada pesan iklan di dalam konteks dimana kemungkinan besar orang-orang bisa mengetahui peran identitas. Exp; promoting fitness and energy product at a marathon.

SYMBOLIC INTERACTIONIS
            Masing-masing orang berpotensi memiliki banyak social selves, masing-masing peran bisa menentukan self mana yang “activate” pada waktu tertentu. Pada sociological tradition memiliki symbolic interactionism yang menekan hubungan dengan orang lain berpengaruh besar dalam pembentukan diri. Perspektif ini menegaskan bahwa banyak orang yang eksis di dalam symbolic interactionism, dan kita menempatkan beberapa arti pada situasi atau objek untuk menginterpretasikan simbol ini.
            Masing-masing dari kita, ketika menafsirkan identitas kita, dan asesmen ini dikembangkan terus menerus selama kita menghadapi situasi dan orang-orang baru. Dalam symboloc interactionist term, kita berunding dari waktu ke waktu. Dengan cara mengutamakan sikap konsumen saat bertanya “who am i in this situation” jawaban atas pertanyaan ini sangat berpengaruh dengan sekeliling kita, “who do other people think I am?” kita cenderung mencontoh tingkah laku yang kita perbuat dalam merasakan dugaan dari orang lain dalam bentuk self fulfilling prophecy.  Dengan bantuan akting bisa saja kita menganggap orang lain mengharapkan kita untuk bertindak, kita sering kali terbiasa menetapkan persepsi ini.

THE LOOKING-GLASS SELF
            Menurut pandangan ini keinginan kita untuk mendefinisikan ourselves operates ada bermacam-macam menurut psychological sonar. Kita mengambil bacaan tentang identitas kita melalui “bouncing” signal off pada orang lain dan berusaha membangun beberapa kesan yang kita miliki.
            A self-fulfilling prophecy dapat beroperasi di sini karena “signal” ini bisa berpengaruh terhadap perilaku seseorang yang sesungguhnya. Jika seseorang tidak mempercayai kecantikannya, dia bisa saja memeilih untuk membeli pakaian yang tidak rapi yang sebenarnya membuat dirinya terlihat tidak menarik.

SELF-CONSCIOUSNESS
            Saat ini orang-orang nampak mengetahui perasaan tidak nyaman pada self mereka. Ketika kamu berjalan ke tengah kelas dengan omelan dan kamu meyakini semua mata tertuju padamu, kamu dapat mengerti perasaan inilah yang disebut self-consciousness. Dalam kenyataannya, konsumen biasanya berkelakuan dengan sedikit mengejutkan self-consciousness.
            Sebagian orang nampak lebih sensitif  yang pada umumnya menggambarkan cerita mereka pada hal yang lain.
            Peneliti telah menemukan tehnik pada beberapa orang untuk mengatasi kecenderungan ini. Konsumer yang memiliki skor derajat tinggi pada self-consciousness, contohnya pada pembelian dan para pemakai kosmetik tingkat tinggi.

CONSUMPTION AND SELF-CONCEPT
            Strategi populer yang biasa disebut identity marketing, kapan konsumen mengubah kembali aspek pada selfnya untuk iklan saat membuat merek pada suatu produk.
            Untuk memperpanjang perspektif dramaturgical agar sedikit lebih maju, lebih mudah untuk melihat berapa pemakaian produk dan konstribusi produk untuk definisi self.

PRODUCT THAT SHAPE THE SELF; YOU ARE WHAT YOU CONSUME
            Orang-orang menggunakan tingkahlaku konsumsi individual untuk membantu mereka membuat pendapat tentang person’s social identity. Sebagai tambahan  untuk mempertimbangkan pakaian dan kebiasaan seseorang, kita membuat perbedaan tentang dasar personaliti pada pilihan seseorang pada aktifitas yang mereka sukai (squash versus bowling), pilihan makanan (tofu and beans versus steak and potatoes), mobil, pilihan dekorasi rumah dan lainnya.
            Symbolic self-completion theory menganjurkan pada orang-orang yang cenderung memiliki definisi self yang tidak sempurna  untuk melengkapi identitas ini dengan memperoleh dan menampilkan hubungan simbol dengan definisi self yang tidak sempurna.

SELF/PRODUCT CONGRUENCE
            Karena banyaknya aktifitas pemakaian yang berhubungan dengan self-devinition, ini bukanlah sesuatu yang mengejutkan untuk diketahui bahwa konsumen menunjukkan konsistensi lebih didepan nilainya, dan membeli apapun. Self-image congruence models menganjurkan bahwa kita memilih produk ketika atribut mereka cocok dengan beberapa aspek self. Model ini mengambil sebuah proses kognitif yang lebih cocok dengan atribut produk dan self-image konsumen.

THE EXTENDED SELF
Pada catatan awal. Banyak properti dan pengaturan konsumen yang mendefinisikan peran sosialnya menjadi bagian dari selfnya. Ini merupakan objek eksternal yang kita anggap sebuah bagian yang terdiri dari extended self. Pada sebagian kebudayaan, banyak orang literally memasukkan objek kedalam self, mereka mendapat sedikit posisi baru, pengambilan nama untuk menaklukkan saingan, atau melupakan kegagalan pada posisinya.
            Kita dapat mendeskripsikan empat level untuk extended self, berkisar pada banyak objek personal untuk mempatkan berbagai hal yang membuat orang-orang merasa lebih maju, mereka adalah sumber didalam lingkungan sosial yang lebih luas.
  1. Individual level; konsumen memasukkan banyak posisi personalnya dalam self-devinition
  2. Family level; bagian dari extended self ini terdiri dari tempat tinggal konsumen dan perlengkapannya.
  3. Community level; keadaan konsumen untuk mendeskripsikan dirinya pada istilah dari tetangga atau kota asalnya.
  4. Group level; perlengkapan kita untuk beberapa kelompok sosial yang juga dapat mempertimbangkan bagian pada self.

SEX ROLES
            Identitas seksual adalah komponen yang sangat penting pada konsep diri konsumen. Banyak orang sering menyesuaikan diri pada harapan kebudayaannya mengenai bagaimana perbuatan gendernya, pakaian, atau bicaranya. Akan tetapi, ini merupakan pilihan dari waktu ke waktu, dan mereka berbeda dalam garis sosial yang radikal. Hal ini tidak jelas, untuk apa perbedaan gender yang luas, perawakan yang halus versus bentuk kebudayaan. Tetapi mereka pastinya sudah jelas di dalam menangani situasi.

GENDER DIFFERENCES IN SOCIALIZATION
            Komunitas masyarakat sosial berasumsi tentang peran yang tepat pada laki-laki dan perempuan untuk menekankan tingkah laku yang ideal pada setiap gender. Banyak sumber-sumber komersial dalam edisi yang diperuntukkan orang tua dan teman-teman, menyediakan pelajaran dalam sosialisasi gender, untuk anak perempuan dan laki-laki.
            Penguatan iklan dugaan gender ini diharapkan bisa memelihara nilai kultural. Negara menetapkan bahwa secara fisik menutup perbedaan yang bisa saja mengirimkan pesan yang berbeda.
            Banyak masyarakat (laki-laki) mengharapkan untuk melanjutkan agentic goals. Dengan tekanan self assertion dan penguasa. Sebaliknya, mereka mengajarkan wanita untuk menilai communal goals, seperti hubungan  dan pemeliharaan hubungan yang harmonis.

Gender versus sexual identity
Identitas  peran gender merupakan suatu kenyataan yang ada di dalam fikiran setiap orang. Gender biologis seseorang tidak sepenuhnya total dalam pertahanan diri apakah pria atau wanita akan melampirkan sex-typed traits. Secara stereotip, karakteristik kita berhubungan dengan satu gender atau lainnya. Perasaan subjektif konsumen tentang seksualitasnya merupakan krusial yang baik.
Tidak seperti kelelakian dan kewanitaan, maskulinitas dan femininitas bukan merupakan karakteristik biologis, perilaku maskulin dianggap pada pada suatu budaya mungkin tidak sama seperti budaya lainnya.
                       

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar