Gender Identity Disorder


Gender Identity Disorder, atau dalam bahasa Indonesianya: Waria (Gangguan Identitas Gender).

Dari sudut psikologi-ilmiah, waria 'condong' digolongkan pada gangguan identitas jenis (gender identity disorders). Gangguan ini ditandai dengan adanya perasaan tidak senang terhadap jenis kelamin. Dengan begitu, ia berperilaku seperti lawan jenisnya.

Yang masuk dalam golongan ini adalah; transeksualisme, gangguan identitas jenis masa anak-anak (pratran-seksualisme) dan gangguan identitas jenis tidak khas (Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa. Tim Direktorat kesehatan Jiwa, edisi II, cetakan pertama, 1985 halaman 223).

Perasaan tidak suka pada jenis kelamin ini bukan karena alat kelaminnya terlalu kecil atau tidak aktif, sehingga si empunya tidak mendapat kepuasan, tetapi karena ia merasa alat kelaminnya tidak pada tempatnya. Dan perasaan tersebut terus selalu mengganggu, sehingga ada keinginan untuk menghilangkan ciri-ciri kelaki-lakiannya (kalau ia merasa perempuan), atau ciri kewanitaannya (kalau ia merasa laki-laki).

Di kalangan awam, tidak sedikit yang memahami atau mempertautkan waria dengan homoseks, seakan-akan waria identik dengan gay. Padahal, waria dan gay merupakan dua fenomena yang terpisah, betapapun dalam hal-hal tertentu keduanya masih dapat digolongkan sebagai penyimpangan seksual. Untuk itu ada baiknya kita lihat penggolongan gangguan yang lain sebagai pembanding golongan identitas jenis (gender identity disorders), sehingga pemahaman akan waria semakin jelas dan gamblang.

Pertama, parafilia. Kelainan ini ditandai dengan adanya ketidaklaziman pada obyek serta situasi seksualnya. Dalam taraf tertentu, penderita akan terhambat kemampuannya untuk melakukan hubungan seksual secara timbal balik. Penderita jenis ini juga memerlukan khayalan atau perbuatan yang tidak lazim untuk bisa bergairah. Umumnya, ia lebih menyukai pemakaian benda untuk merangsang dirinya sendiri. Dan tidak jarang melakukan hubungan seks dengan pasangan yang justru tidak menghendakinya. Adapun yang termasuk ke dalam golongan jenis ini antara lain sexual sadism, sexual masochism, zoophylia, voyeurism, fetishism, pedophylia, exhibitionism, dan transvestism.

Salah satu kelainan di atas yaitu transvestism sering disebut-sebut orang banyak menjelaskan soal waria. Karena orang yang menderita kelainan ini mendapatkan kegairahan dengan cara memakai pakaian lawan jenisnya. Namun, jika dilihat dari penggolongannya saja, jelas terdapat perbedaan antara transeksualisme dan transvetisme. Pada transeksualisme, identitas jenisnya yang terganggu, sedangkan transvetisme termasuk parafilia, obyek dan situasinya yang tidak normal. Penderita transeksual berpakaian wanita (jika laki-laki) atau berpakaian pria (jika dia wanita) karena merasa ada ketidak sesuaian antara fisik dan jiwanya. Tetapi pada transvestisme tidak begitu persoalannya. Penderita ini berpakaian lawan jenisnya justru untuk mendapatkan gairah seks. Dengan begitu, bisa saja penderita ini hanya sesekali memakai pakaian lawan jenisnya.

Jelas sekali bahwa penderita transeksual ingin sekali menghilangkan ciri-ciri kelaki-lakiannya ataupun sebaliknya. Sedangkan pada transvestisme tidak perlu begitu. Misalnya, kalau dia laki-laki, dia tetap suka pada ciri kelaki-lakiannya, meskipun dia memakai rok. Ia tetap senang bisa bersenggama dengan wanita walau ada juga yang senang dengan sesama jenis. Dan meskipun memakai rok, mungkin saja ia tetap memasang kumisnya yang tebal.

Sekali lagi, hanya pada transvestisme lah hal tersebut dapat ditemukan. Tentu saja tidak semua transvestit berani berlaku begitu, apalagi di Indonesia. Itulah sebabnya kita sulit menebak mana yang transvesti dan mana yang transeksual?

Kelompok kedua yaitu disfungsi psikoseksual. Gangguan yang masuk ke dalam kelompok ini antara lain frigiditas, impotensi, dan ejakulasi prematur. Sengaja penjelasan disini kurang karena jelas tidak ada relevansinya dengan pembahasan mengenai waria (transeksual).

Sedangkan kelompok terakhir adalah gangguan psikoseksual lainnya. Disinilah homoseksual yang ego-distonik dimasukkan, juga gangguan psikoseksual lain yang belum diklasifikasikan. Homoseksualitas adalah perasaan tertarik terhadap sesama jenis kelamin, baik dengan maupun tanpa hubungan fisik. Menurut teori-teori baru, homoseksualitas ini tidak lagi dikategorikan sebagai gangguan atau penyakit jiwa. Juga tidak dianggap sebagai devisi seksual, serta tidak dimasukkan ke dalam kelompok parafilia. Sebab, homoseksualitas dianggap salah satu fenomena manifestasi seksualitas manusia yang menurut dokter Alfred Kinsey dan kawan-kawan (Pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa. Tim Direktorat kesehatan Jiwa, edisi II, cetakan pertama, 1985 halaman 242) merupakan suatu kontinum (kelanjutan) seksualitas manusia. Yang bisa disejajarkan dengan fenomena heteroseksualitas serta biseksualitas.

Dari pembagian di atas, tampaknya, Kinsey dan kawan-kawan ingin menunjukkan kepada kita bahwa di dalam masyarakat homoseksualitas dan heteroseksualitas terdapat berbagai variasi penampilan. Artinya, banyak orang mempunyai kecenderungan sifat-sifat homoseks dalam berbagai gradasi (tingkatan). Itu sebabnya, homoseksualitas dapat ditemui di mana saja sepanjang sejarah manusia.

Dari penggolongan psikologi di atas, menjadi semakin jelas posisi waria (transeksual) sebenarnya. Pandangan dan anggapan yang sering beredar seperti waria diasosiasikan sama dengan transvestisme atau homoseksualisme menjadi tidak benar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar